Bacaan : Hosea 11:1-4
Bayangkan anak kita. Sejak kecil kita merawatnya dengan penuh kasih
sayang. Kita tidak pernah lelah menjaganya; tidak pernah bosan
memberinya segala sesuatu yang baik. Kita rela berkorban apa pun demi
kebahagiaannya. Hingga ia tumbuh menjadi dewasa, sehat, dan kuat.
Namun, apa balasannya? Ia justru memberontak terhadap kita, melakukan
hal-hal buruk yang tidak kita harapkan. Bahkan ia juga pergi
meninggalkan kita, mengikuti orangtua lain yang tidak jelas asal
usulnya. Alangkah menyakitkan, bukan?
Tuhan pun merasakan hal serupa ketika umat-Nya, Israel, memberontak.
"Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil
anak-Ku itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari
hadapan-Ku, mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan
membakar korban kepada patung-patung." (ayat 1,2). Pedih dan perih.
Mereka seolah tidak ingat lagi akan karya kasih-Nya di masa lalu;
bagaimana Dia membebaskan mereka dari perbudakan di negeri Mesir, dan
bagaimana Dia dengan kasih setianya yang begitu besar membimbing,
menjaga, dan memelihara mereka selama masa pengembaraannya di padang
gurun.
Bisa jadi kita kesal dan geleng-geleng kepala dengan "kedegilan"
Israel. Sungguh tidak tahu diri. Namun, tidakkah kita pun kerap tidak
jauh berbeda dengan mereka? Betul, kita tidak sampai menyembah
patung-patung dan meninggalkan Tuhan, tetapi bahwa kita dengan sadar
melakukan hal-hal yang menyakitkan-Nya, kita abaikan perintah-Nya,
kita anggap sepi teguran-Nya, kita dahulukan hal-hal lain
daripada-Nya, tidakkah itu sama dan serupa? Semoga kita segera insaf
-AYA
MASIHKAH KITA TERUS MENYAKITI-NYA?
|