Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Renungan Harian > MANUSIA SEPERTI RUMPUT
< September
2009
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      


Cari di Arsip e-Renungan Harian Cari di e-RH
Lihat Arsip e-Renungan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Renungan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs Renungan Harian

Minggu, 27 September 2009

Bacaan Setahun : Daniel 4-6
Nats : Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya (Yesaya 40:6,7)

MANUSIA SEPERTI RUMPUT

Bacaan : Yesaya 40:6-8

Suatu kali dalam sebuah perjalanan, suami saya memperhatikan sebuah spanduk yang terpampang di salon dan bertanya kepada saya, "Ada keriting bulu mata, sambung rambut, tato alis, setrika muka, kenapa makin banyak penampilan yang enggak alami pada zaman ini? Padahal pasti mahal, ya biayanya?" Saat itu saya hanya tersenyum mendengarnya. Namun, berhari-hari setelah pertanyaan itu terlontar, diam-diam saya terus memikirkannya.

Manusia pada zaman ini-baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang sibuk memperhatikan penampilan dengan mengikuti berbagai program pembentukan tubuh, kecantikan wajah dan rambut, serta berbagai "penampilan penunjang" lainnya. Untuk sebuah penampilan yang oke, orang rela berkorban waktu, tenaga, dan materi.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan, bahwa hidup kita seperti rumput dan bunga di padang, semaraknya akan segera berlalu. Sementara. Orang Jawa menggambarkan perjalanan hidup di dunia seperti orang yang mampir ngombe (mampir minum). Namun, bukan berarti hidup yang fana ini dapat kita pakai seenaknya untuk memuaskan segala keinginan, justru karena hidup itu sementara, kita mesti memaknainya; menjalin relasi yang semakin akrab dengan Dia yang kekal.

Merawat tubuh dan memperindah penampilan tentu tidak salah. Namun, jika untuk penampilan ragawi yang sefana rumput saja kita memperhatikannya begitu rupa, bukankah hidup rohani kita semestinya diperhatikan lebih dari itu? Marilah kita belajar untuk lebih menikmati keakraban kita dengan-Nya, yang membuat hidup ini jadi berarti -HA

SEKALIPUN FANA, HIDUP ADALAH ANUGERAH TUHAN YANG BERHARGA

WARNAILAH DENGAN KEAKRABAN BERSAMA TUHAN DAN FIRMAN-NYA YANG KEKAL
Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran