Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Renungan Harian > WARUNG KEJUJURAN
< September
2009
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      


Cari di Arsip e-Renungan Harian Cari di e-RH
Lihat Arsip e-Renungan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Renungan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs Renungan Harian

Rabu, 23 September 2009

Bacaan Setahun : Yehezkiel 40-42
Nats : Timbangan dan neraca yang betul adalah kepunyaan TUHAN, segala batu timbangan di dalam pundi-pundi adalah buatan-Nya (Amsal 16:11)

WARUNG KEJUJURAN

Bacaan : Amsal 16:11-17

Putu Setia, dalam kolomnya di Koran Tempo, bertutur tentang "warung kejujuran" di lereng Gunung Batukaru, Bali, tempat pemukiman para petani kopi. Warung itu menjajakan makanan ringan dan rokok ketengan. Tidak ada penunggunya. Pembeli bisa mengambil apa saja, lalu membayar sesuai dengan harganya.

Hebatnya, pemilik warung mengaku tidak pernah rugi. Para pembeli tidak pernah berutang. Mereka memasukkan sendiri uang bayaran ke kaleng bekas wadah biskuit. Pemilik warung berkomentar, "Kalau ada orang mengambil jajan di dalam stoples dan tidak membayar, kan sama saja dengan kuluk, hina sekali manusia itu." Kuluk berarti anjing dalam bahasa setempat.

Alangkah menyenangkan jika setiap transaksi bisnis bisa berlangsung seperti itu! Entah kita membeli atau menjual, menghasilkan produk atau menawarkan jasa, kita dapat membedakan antara praktik yang jujur dan yang tidak jujur. Kadang-kadang kita tergoda untuk bertindak tidak jujur agar dapat lebih maju daripada saingan kita atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Namun, Tuhan menghendaki kita untuk bersikap seperti para pembeli di warung tadi.

Dalam terjemahan Alkitab versi New Living, nas hari ini berbunyi, "TUHAN menuntut neraca dan timbangan yang akurat." Tuhan menuntut kejujuran. Jika kita ingin menaati Tuhan, tidak ada pilihan lain. Kita tidak dapat berdalih untuk membenarkan praktik bisnis yang menyimpang. Memang tidak selalu mudah, tetapi kita dapat meminta hikmat dan keberanian dari Allah agar secara konsisten dapat bersikap jujur -ARS

KEJUJURAN ADALAH MATA UANG YANG PALING MAHAL
Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran