Bacaan : Amsal 16:11-17
Putu Setia, dalam kolomnya di Koran Tempo, bertutur tentang "warung
kejujuran" di lereng Gunung Batukaru, Bali, tempat pemukiman para
petani kopi. Warung itu menjajakan makanan ringan dan rokok ketengan.
Tidak ada penunggunya. Pembeli bisa mengambil apa saja, lalu membayar
sesuai dengan harganya.
Hebatnya, pemilik warung mengaku tidak pernah rugi. Para pembeli
tidak pernah berutang. Mereka memasukkan sendiri uang bayaran ke
kaleng bekas wadah biskuit. Pemilik warung berkomentar, "Kalau ada
orang mengambil jajan di dalam stoples dan tidak membayar, kan sama
saja dengan kuluk, hina sekali manusia itu." Kuluk berarti anjing
dalam bahasa setempat.
Alangkah menyenangkan jika setiap transaksi bisnis bisa berlangsung
seperti itu! Entah kita membeli atau menjual, menghasilkan produk
atau menawarkan jasa, kita dapat membedakan antara praktik yang jujur
dan yang tidak jujur. Kadang-kadang kita tergoda untuk bertindak
tidak jujur agar dapat lebih maju daripada saingan kita atau
memperoleh keuntungan yang lebih besar. Namun, Tuhan menghendaki kita
untuk bersikap seperti para pembeli di warung tadi.
Dalam terjemahan Alkitab versi New Living, nas hari ini berbunyi,
"TUHAN menuntut neraca dan timbangan yang akurat." Tuhan menuntut
kejujuran. Jika kita ingin menaati Tuhan, tidak ada pilihan lain.
Kita tidak dapat berdalih untuk membenarkan praktik bisnis yang
menyimpang. Memang tidak selalu mudah, tetapi kita dapat meminta
hikmat dan keberanian dari Allah agar secara konsisten dapat bersikap
jujur -ARS
KEJUJURAN ADALAH MATA UANG YANG PALING MAHAL
|