Bacaan : Roma 12:9-16
Dua orang ibu mengobrol di sekolah seusai mengambil rapor anaknya.
"Bagaimana hasilnya, Bu Diah?" tanya Ibu Dewi. Spontan Ibu Diah
menceritakan prestasi anaknya dengan penuh semangat. Selain menjadi
juara pertama, anaknya mendapat beasiswa untuk studi lanjut di luar
negeri. Dengan bangga, Ibu Diah menceritakan kehebatan anaknya. Tak
lupa ia sisipkan kiat-kiat jitunya dalam mendidik. Ibu Dewi diam
saja, sampai Ibu Diah bertanya, "Bagaimana dengan anakmu?" Dengan
sedih Ibu Dewi menjawab singkat, "Yah, anak saya tidak naik kelas."
Lalu, ia pergi.
Kita bisa menyakiti hati orang lain tanpa kita sadari. Utamanya saat
kita menempatkan diri sendiri "lebih" dari mereka. Tak jarang dalam
percakapan, orang asyik membicarakan kehebatan dirinya, agar
dipandang terhormat. Saat diri sendiri dijadikan pusat perhatian,
kita buta akan suasana hati orang lain! Rasul Paulus berpesan agar
kita "saling mendahului dalam memberi hormat". Yang ia maksud bukan
sekadar menyapa lebih dulu, melainkan menempatkan orang lain di
tempat utama. Saat berbicara, fokuskan perhatian sepenuhnya pada
lawan bicara; pahami maksudnya; rasakan pergumulannya; baca suasana
hatinya; tempatkan diri dalam posisinya. Dengan cara itulah kita
mampu berbela rasa. Bisa menangis dan tertawa bersama mereka. Itulah
kasih sejati yang tidak pura-pura.
Cobalah periksa pola bicara kita akhir-akhir ini. Apakah kita suka
mengarahkan pembicaraan pada diri sendiri? Berapa banyak kata "aku"
yang kita ucapkan saat bicara? Jika jumlahnya terlalu banyak, ayo
kurangi. Hari ini belajarlah berbela rasa -JTI
JADIKAN ORANG LAIN PUSAT PERHATIAN
BUKAN SEKEDAR PEMAIN FIGURAN
|