Bacaan : Keluaran 36:2-7
Pengurus bidang misi di sebuah gereja berencana mengajak jemaat
memberi persembahan rutin untuk mendukung kegiatan misi gereja. Untuk
itu mereka membuat rancangan anggaran, lalu mempresentasikannya
kepada jemaat. Setelah itu mereka mengajak jemaat memberi janji
persembahan sukarela. Berapa jumlahnya, bukan masalah, yang penting
rela. Namun, seorang jemaat menyeletuk, "Rela ya rela, tetapi kalau
yang terkumpul lebih dari yang dibutuhkan, bagaimana? Rugi dong?"
Cerita tentang persembahan yang terlalu banyak juga kita baca dalam
perikop Alkitab hari ini. Saat itu bangsa Israel mengumpulkan
persembahan untuk membuat Kemah Suci dan segala isinya. Ternyata yang
terkumpul lebih dari yang dibutuhkan, sampai-sampai Musa meminta
mereka berhenti. Dan tak seperti jemaat di atas, situasi ini justru
diceritakan dengan nada sukacita.
Mengapa? Karena bangsa Israel memberikan persembahan dengan hati yang
rindu terlibat dalam "mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN
untuk dilakukan" (ayat 5), yakni membangun Kemah Suci. Maka, mereka
masing-masing memberikan apa yang mereka bisa berikan tanpa berpikir
berapa yang telah terkumpul, atau membanding-bandingkan dengan
persembahan orang lain. Jadi, ketika ternyata yang terkumpul terlalu
banyak, mereka tidak menyesal atau merasa rugi. Melainkan bersukacita
karena itu artinya pekerjaan Tuhan bisa segera dirampungkan.
Apabila ada kesempatan lagi untuk memberi bagi pekerjaan Tuhan,
izinkan hati kita bersukacita memberi. Sebab dari setiap pemberian
sukarela kita, pasti ada pekerjaan Tuhan yang dapat diselesaikan -ALS
BERIKAN PERSEMBAHAN TANPA BERHITUNG-HITUNG
SEBAB BERKAT TUHAN TIAP HARI PUN SUDAH TAK TERHITUNG
|