|
Judul: Harus disebarluaskan
Gerakan pekabaran Injil masih belum selesai. Tuhan masih akan
berkarya karena Injil masih belum sampai ke ujung-ujung bumi.
Ujung bumi masih belum terwakili hanya dengan pertobatan seorang
sida-sida yang adalah pembesar dari Etiopia. Kali ini Tuhan ingin
merengkuh Kornelius.
Walau bukan orang Israel, Kornelius percaya pada Allah yang mereka
sembah. Dan itu dia wujudkan dalam hidup takut akan Allah Israel
(ayat 2). Begitu juga seisi rumahnya. Rasa takut akan Tuhan itu
mewujud dalam bentuk doa dan sedekah kepada umat Tuhan yang
membutuhkan. Lalu apakah kesalehan Kornelius bertepuk sebelah
tangan? Ternyata tidak. Allah melihat kesalehan Kornelius, dan ia
kemudian memperoleh perkenan Tuhan. Terbukti Tuhan sampai
mengirim utusan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada Kornelius.
Ini memperlihatkan betapa dekat hubungan Kornelius dengan Tuhan.
Malaikat berkata bahwa doa dan sedekah Kornelius sesungguhnya
bagaikan aroma persembahan yang harum di hadapan Allah (ayat
3-6). Namun perbuatan baik tidak pernah menjadi jaminan bagi
siapapun untuk beroleh keselamatan. Ini dapat kita lihat dari
respons Allah. Allah tidak menyatakan bahwa Kornelius telah
diselamatkan, meski Ia berkenan pada Kornelius. Itulah sebabnya
Allah menyuruh dia untuk mengusahakan pertemuan dengan rasul
Allah, yaitu Petrus.
Allah memakai cara itu untuk menunjukkan kepada Kornelius bahwa
keselamatan tersedia bagi semua orang, tanpa pandang bulu.
Kornelius mewakili jenis manusia yang kepadanya Injil tidak
pernah diberitakan sebelumnya. Sida-sida Etiopia juga seorang
nonYahudi, tetapi orang Yahudi menghormati dia karena jabatannya.
Namun sebagai perwira pasukan Roma, karier Kornelius tidaklah
berarti apa-apa. Mereka menganggap Kornelius sebagai antek-antek
penjajah.
Maka kisah ini memperlihatkan kepada kita kehendak Allah bahwa Injil
harus disebarluaskan kepada siapapun, tak pandang ras atau warna
kulit.
|