|
Judul: Mari mengingat karya Tuhan
Banyak orang yang tidak suka melihat masa lalunya, malah memilih
untuk melupakannya saja karena menganggap masa lalunya kelam. Tak
ada yang menyenangkan dan pantas untuk diingat.
Pemazmur dalam bacaan kita hari ini, begitu bersemangat melihat ulang
pengalaman hidup yang telah dia lalui: Tuhan telah menjawab doa
yang dia panjatkan dengan hati nuraninya yang tulus (ayat 16-20).
Tuhan tentu tidak mau mendengar doa orang yang licik dan tidak
tulus. Sebab itu pemazmur memuji-muji Allah dan mempersembahkan
korban untuk menepati nazar yang telah dia ucapkan sebelumnya,
pada waktu dia mengalami kesusahan (ayat 13-15).
Pemazmur pun mengajak umat Tuhan untuk mengingat ulang karya-karya
Allah dalam perjalanan sejarah bangsa mereka. Dengan ajaib, Allah
telah melepaskan mereka dari kejaran tentara Mesir (ayat 5-7).
Dengan prajurit bersenjata di belakang mereka dan gulungan ombak
di depan mereka, siapakah yang dapat menyangka sebelumnya bahwa
Allah akan membelah laut menjadi jalan yang terbuka bagi mereka?
Ajaib bukan? Maka meskipun pengalaman itu begitu mendebarkan,
seolah nyawa berada di ujung tanduk, pemazmur dengan jelas
menyaksikan bahwa Tuhan tidak membiarkan musuh berjaya atas
mereka (ayat 8-12). Tuhan tidak membiarkan mereka binasa begitu
saja. Oleh sebab itu pemazmur mengajak umat untuk merespons karya
Allah yang ajaib itu dengan puji-pujian dan sorak sorai (ayat
1-4).
Seberapa sering Anda mengisi ibadah Anda dengan puji-pujian kepada
Tuhan? Seberapa sering hati Anda terangkat karena mengingat ulang
karya Tuhan dalam perjalanan hidup? Ketika hidup terasa menekan,
ketika Anda kehilangan sukacita dan memandang dunia dengan
kacamata buram, mari ingat lagi apa yang telah Allah lakukan
dalam hidup Semua itu akan menyatakan kebesaran dan kasih Allah.
Dengan mengingat-ingat semua itu, niscaya sukacita akan mengalir
dan puji-pujian pun akan terucap dari bibir Anda.
|