Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Korintus 2:1-5
< Juli
2009
>
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Sabtu, 11 Juli 2009

Judul: Melayani dalam kuasa Roh
Bagaimana kesan Anda tentang pernyataan Paulus ini? Tidak mengandalkan kapasitas dan daya apapun yang dia miliki secara kodrati dalam pelayanan! Bahkan tidak mau tahu yang lain kecuali "Dia yang disalibkan!" Sungguh ekstrim! Mengingat konteks kota Korintus sebagai kota pelabuhan dagang, pusat budaya, serta berbagai kegiatan religius, jelas tidak mudah melayani di sana. Jika sekarang kita melayani kaum intelektual, bukankah kita harus memiliki bobot dan mampu tampil meyakinkan secara intelektual juga? Jika pewartaan atau pelayanan kita tidak mengandung argumentasi intelektual, siapa yang mau mendengar kita? Jika kita ingin mencapai orang berpangkat atau para pesohor, tetapi kita tidak selevel mereka, bagaimana kita dapat mengharapkan sambutan?

Begitulah, logika mendorong kita untuk menyesuaikan diri sebisa mungkin setara orang yang ingin kita ajak berelasi. Hal inilah yang disoroti serius oleh kesaksian Paulus dalam pelayanan. Mari amati baik-baik. Firman Allah bukan menuntut kita untuk menolak semua kapasitas dan cara pendekatan wajar dan manusiawi. Isu intinya di sini bukan soal memakai atau tidak memakai, tetapi bergantung pada apa atau siapa kita dalam pelayanan. Kita harus sadar bahwa semua kapasitas manusia selalu ada segi baiknya, tetapi juga membawa kecemaran dan "kebengkokan" sifat dosa. Maka kita tidak harus memusuhi juga tak boleh mengandalkannya. Kita harus mengandalkan kuasa Roh dan kuasa yang terdapat dalam Injil Kristus. Semua kapasitas manusia adalah sarana yang harus dikuduskan dan ditopang oleh kuasa-Nya. Bukan sebaliknya!

Bukan Paulus sendiri yang berpendirian seperti itu. Coba renungkan para hamba Allah dalam PL: Nuh, Musa, Yeremia, Daniel, dlsb. Juga mengapa ketika mengutus para murid Yesus melarang mereka membawa bekal lebih. Bukan saja agar ketergantungan kita tidak ke arah yang salah, juga agar potensi manusia yang tercemar dosa tidak mengacaukan isi pelayanan Roh kepada sesama kita. Dan tentunya, agar bukan diri kita yang dimuliakan, tetapi Dia saja yang layak dipuji! Jadi doa, karunia Roh, kuasa Injil, itulah yang harus jadi hakikat pelayanan kita!

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran