|
Judul: Haus akan Allah
Sebuah surat kabar nasional pernah memuat cerita tentang seorang anak
yang nekad pergi dari Jakarta ke pulau Bangka dengan bermodalkan
uang sebesar Rp 35.000 dan sepeda kesayangannya. Mengapa dia
begitu nekad? Perlakuan kasar ibu tiri dan kerinduan akan ibu
kandungnya memotivasi dia untuk melakukan perjalanan jauh itu.
Daud pernah merasakan kerinduan yang amat kuat kepada Tuhan saat ia
berada di padang gurun. Kerinduannya bagaikan kerinduan akan air
saat haus di padang gurun (ayat 2-3). Dahaga yang tak terperikan.
Ini menggambarkan betapa Daud sangat membutuhkan Allah, yang
mulia dan berkuasa. Kehausan Daud akan Allah membangkitkan
puji-pujian dari dalam hatinya. Perenungan akan kasih Allah yang
telah memuaskan hidupnya (ayat 6) mengalirkan sorak sorai pujian
(ayat 7-8). Perenungan akan dukungan Tuhan dalam hidupnya,
membuat Daud yakin bahwa Allah akan melindungi dia dalam situasi
yang dia tengah hadapi (ayat 10-12). Daud tahu bahwa Allah akan
melepaskan dia dari musuh-musuhnya, dan karena itu ia
bersukacita.
Perenungan akan pribadi dan karya Allah memang membawa penyegaran
pada iman kita. Merenungkan kasih dan setia Tuhan akan memenuhi
kebutuhan dasar rohani kita, seperti makanan dan minuman bagi
fisik. Maka bila saat ini Anda sedang merasa seperti berada di
padang gurun yang kering dan gersang, ingatlah
pengalaman-pengalaman Anda berjalan bersama Allah. Ingatlah
bagaimana kasih dan kuasa-Nya pernah membuat Anda takjub dan
bersukacita. Ingatlah bagaimana pemeliharaan-Nya memampukan Anda
menjalani hari demi hari. Maka Anda akan merasakan sukacita dan
puji-pujian memenuhi hati Anda. Iman Anda pun akan disegarkan dan
dikuatkan. Karena itu, ketika Anda mengalami masalah, jangan mau
disudutkan oleh masalah itu sendiri. Angkat pandangan Anda kepada
Allah, yang pasti tengah memerhatikan Anda. Yakinlah bahwa Ia
tidak meninggalkan Anda.
|