|
Judul: Allah dalam hidup umat
Bagi bangsa Israel, Allah bukan hanya dikenal sebagai Allah Pencipta
saja. Kisah campur tangan Allah saat mereka keluar dari Mesir,
membekas kuat dalam ingatan mereka. Israel, yang begitu lama
berada dalam kungkungan Mesir, kemudian bebas merdeka. Bila bukan
karena Allah, mana mungkin identitas mereka sebagai bangsa bisa
pulih?
Mazmur yang menjadi bacaan hari ini merupakan hasil ingatan akan
keperkasaan Allah saat Ia berhasil mengalahkan tentara Mesir,
yang mengejar bangsa Israel. Bagai prajurit tangguh, Allah
berhasil membuat musuh-musuh Israel bertekuk lutut (ayat 2-3).
Musuh-musuh lari tunggang langgang karena ketakutan (ayat 2).
Mereka kemudian lenyap bagai asap tertiup angin dan hancur bagai
lilin meleleh terbakar api (ayat 3). Begitulah nasib orang-orang
yang memusuhi Allah dan umat-Nya. Di sisi lain, orang-orang yang
berdiri di pihak Allah, yaitu orang-orang benar akan bersukacita
karena hal itu (ayat 4). Allah, yang berkuasa atas alam semesta
itu, memang adalah Pelindung bagi orang-orang yang lemah dan
tertindas (ayat 6). Pemazmur ingat, waktu Israel membutuhkan
pertolongan, Allah memimpin mereka seperti gembala memimpin
kawanan domba. Mereka harus melalui padang belantara sampai
akhirnya mereka dapat tiba di negeri yang dituju (ayat 8-11).
Namun Tuhan tidak berhenti sampai di situ saja. Ia masih tetap
terlibat ketika Israel masih harus berperang dengan para penguasa
yang menduduki tanah itu, supaya mereka bisa tinggal di sana
(ayat 12-15). Kehadiran Tuhan di tempat itu digambarkan bagai
arak-arakan karena menang perang. Puluhan ribu kereta kuda
disertai dengan tawanan-tawanan yang tertunduk malu karena kalah
perang (ayat 16-19).
Kisah perjalanan hidup Israel sebagai suatu bangsa memperlihatkan
karya dan keperkasaan Allah, juga menunjukkan kepedulian dan
campur tangan Allah. Begitu jugakah kisah hidup kita? Bila Anda
ragu untuk mengatakan ya, cobalah tanyakan hati Anda, sudahkah
Anda mempersilakan Allah berkarya sepenuh dan seutuhnya dalam
hidup Anda?
|