|
Judul: Ketika merasa sendirian
Sendirian dan terasing, itulah situasi yang dihadapi pemazmur. Ia
berada dalam pelarian. Tanpa teman, ia berada di pegunungan yang
berbatu-batu. Tentu ia merasa kesepian. Dirinya lemah lesu (ayat
3). Ke manakah ia harus pergi kalau bukan kepada Tuhan? Siapakah
yang bisa dia ajak bicara kalau bukan Tuhan? Maka ia berseru
kepada Tuhan, sang Gunung batu. Ia meminta Allah memberi
perhatian pada doanya (ayat 2). Ia mengharapkan Allah menjadi
tempat perlindungan karena baginya, Allah adalah gunung batu dan
menara yang kuat (ayat 3-4). Kerinduan akan perlindungan Allah
ini dilandaskan pada pengalaman pemazmur dengan Allah sebelumnya
(ayat 4). Maka pemazmur berharap dapat tinggal di rumah Allah,
untuk menikmati perlindungan-Nya (ayat 5). Harapan yang disertai
keyakinan bahwa Allah mendengar doanya (ayat 6). Pada saat
itulah, pemazmur akan memuji Allah dengan nyanyian dan akan
memberi persembahan secara teratur (ayat 9).
Masalah memang sering membuat kita merasa sendirian dan terasing,
meski berada di tengah orang banyak. Seakan-akan tak ada teman
untuk berbagi masalah. Orang terdekat pun seolah tak memahami
kita. Namun sebagai orang percaya, kita dapat dengan yakin
memohon kelepasan dari Allah. Dia tidak pernah bisa dibatasi oleh
apapun juga. Ingatlah janji-janji dalam firman-Nya. Ingat juga
kesetiaan-Nya yang telah kita alami sebelumnya. Pengalaman dan
juga firman akan menguatkan kita tatkala kita merasa sendirian.
Selain itu, yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan
kita. Dia akan selalu menganugerahkan kekuatan dan per-lindungan
yang sempurna kepada kita.
Dengan senantiasa memercayai Tuhan sebagai gunung batu dan kota
benteng kita, seluruh totalitas hidup kita akan berubah. Tak ada
lagi yang dapat menjadi ancaman bagi kita. Ketika kita bergantung
penuh pada Dia, tak ada lagi yang dapat mengoncangkan kita. Maka
temukan kekuatan dengan berserah secara total kepada kasih dan
kesetiaan-Nya.
|