|
Judul: Untuk semua orang
Ada jurang besar antara orang Yahudi dan nonYahudi. Dalam Kisah Para
Rasul dan dalam surat-surat di PB, salah satu hal yang
membahayakan gereja adalah anggapan bahwa Kristen merupakan
subordinat Yudaisme. Atau dengan kata lain, Kristen merupakan
agama turunan dari Yudaisme sehingga dinilai lebih rendah. Itulah
sebabnya Yudaisme beranggapan bahwa bila orang bertobat menjadi
Kristen maka ia harus menjadi orang Yahudi juga. Tentu saja
sebelumnya menjalani ritual sunat dan hukum Taurat.
Kisah Kornelius sangat penting karena membicarakan isu tentang
bagaimana seorang Kristen menjalankan misi penginjilan bagi
orang-orang nonYahudi. Ini memang menjadi ganjalan karena
anggapan bahwa orang-orang nonYahudi tidak kudus berdasarkan
Hukum Taurat. Sampai kemudian Roh Kudus meyakinkan Petrus bahwa
Allah menginginkan dia pergi bersama pembawa pesan dari Kornelius
(ayat 11-16, 19-20). Ini mengejutkan. Memang orang nonYahudi yang
takut akan Tuhan bukan merupakan masalah. Walau demikian orang
Yahudi yang paling moderat pun tak akan pernah mau memasuki
kediaman seorang nonYahudi. Mereka dianggap tidak kudus karena
belum hidup sesuai Taurat. Maka kontak fisik dengan orang
nonYahudi akan membuat orang Yahudi menjadi tidak kudus. Namun
karena penglihatan dari Allah, Petrus diyakinkan untuk tidak lagi
menjalankan tradisi Yahudi itu. Petrus sadar bahwa pemahamannya
selama itu mengenai orang nonYahudi adalah salah. Maka ia
kemudian tidak merasakan adanya ganjalan untuk datang ke rumah
Kornelius (ayat 29). Petrus mulai mengerti makna penglihatannya
dan menerapkannya dalam hubungannya dengan Kornelius.
Allah mulai membuka mata hamba-Nya mengenai konsep ujung bumi yang
Dia maksudkan. Injil memang tidak mengenal perbedaan ras dan
status apapun. Injil ditujukan bagi semua orang. Kita pun harus
melihat orang dengan pandangan yang sama, yaitu membutuhkan
keselamatan dari Kristus. Jalan satu-satunya adalah
memberitakannya.
|