|
Judul: Segeralah, lepaskan aku!
Suatu ketika di saat retret saya mengalami pengalaman menakutkan.
Dalam cuaca buruk, tiba-tiba listrik padam. Karena sudah larut
malam dan langit gelap, padamnya listrik menyebabkan kegelapan
yang begitu pekat. Saya tidak dapat melihat apapun, jari-jari
sendiri pun tidak. Kegelapan itu menimbulkan kesesakan dan
ketakutan. Celakanya tidak ada persediaan alat penerang yang
dapat diusahakan. Pengalaman ini sedikit membantu saya untuk
dapat membayangkan perasaan pemazmur. Pengalaman apa yang
menyebabkan pemazmur berteriak agar Allah segera bertindak?
Meski tidak dijelaskan apa persisnya peristiwa yang ia alami, tentu
hal itu begitu mengerikan sampai ia berteriak agar Allah segera
menolong. Awal dan akhir doanya adalah teriakan: "Bersegeralah ya
Allah, lepaskan aku. Tolong aku!" Jangan berlama-lama Tuhan,
sebab kegelapan ini sudah menyelubungiku. Maut, o Tuhan, sedang
mengintai hendak merenggut nyawaku. Jika Allah mengulur waktu,
apa yang akan terjadi? Musuh sudah dekat. Mereka bernafsu
mencelakaiku!
Teriakan pemazmur tidak sekadar menyangkut kepen-tingan
keselamatannya pribadi. Ia mengaitkan kondisinya dengan kondisi
iman orang lain, juga dengan "reputasi" Allah sendiri.
Pengalamannya ini bersifat rohani. Musuh bukan saja ingin
mencelakakan dirinya, tetapi juga mau menggoncangkan iman umat
Allah. Namun lebih jahat lagi dari itu, di balik semua pencobaan,
aniaya, dan tekanan dari si musuh, ada niat musuh ingin
mempermalukan Allah. Oleh karena itu, pemazmur memohon jangan
sampai musuh beria-ria (ayat 4), tetapi agar situasi itu
dibalikkan oleh Allah. Supaya umat Allah melihat kenyataan dari
yang mereka imani, bahwa Allah hidup, bertindak sesuai kasih dan
kebenaran-Nya.
Apa jadinya bila Allah tidak saja menunda malah meninggalkan kita?
Itulah kengerian yang tak tertanggungkan. Tetapi itu justru
dialami oleh Yesus. Ia menanggung itu supaya kegelapan ngeri maut
akibat dosa tak perlu kita alami lagi! Maka jangan pernah kembali
lagi ke dalam gelap dosa.
|