Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Mazmur 70
< Juli
2009
>
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Selasa, 21 Juli 2009

Judul: Segeralah, lepaskan aku!
Suatu ketika di saat retret saya mengalami pengalaman menakutkan. Dalam cuaca buruk, tiba-tiba listrik padam. Karena sudah larut malam dan langit gelap, padamnya listrik menyebabkan kegelapan yang begitu pekat. Saya tidak dapat melihat apapun, jari-jari sendiri pun tidak. Kegelapan itu menimbulkan kesesakan dan ketakutan. Celakanya tidak ada persediaan alat penerang yang dapat diusahakan. Pengalaman ini sedikit membantu saya untuk dapat membayangkan perasaan pemazmur. Pengalaman apa yang menyebabkan pemazmur berteriak agar Allah segera bertindak?

Meski tidak dijelaskan apa persisnya peristiwa yang ia alami, tentu hal itu begitu mengerikan sampai ia berteriak agar Allah segera menolong. Awal dan akhir doanya adalah teriakan: "Bersegeralah ya Allah, lepaskan aku. Tolong aku!" Jangan berlama-lama Tuhan, sebab kegelapan ini sudah menyelubungiku. Maut, o Tuhan, sedang mengintai hendak merenggut nyawaku. Jika Allah mengulur waktu, apa yang akan terjadi? Musuh sudah dekat. Mereka bernafsu mencelakaiku!

Teriakan pemazmur tidak sekadar menyangkut kepen-tingan keselamatannya pribadi. Ia mengaitkan kondisinya dengan kondisi iman orang lain, juga dengan "reputasi" Allah sendiri. Pengalamannya ini bersifat rohani. Musuh bukan saja ingin mencelakakan dirinya, tetapi juga mau menggoncangkan iman umat Allah. Namun lebih jahat lagi dari itu, di balik semua pencobaan, aniaya, dan tekanan dari si musuh, ada niat musuh ingin mempermalukan Allah. Oleh karena itu, pemazmur memohon jangan sampai musuh beria-ria (ayat 4), tetapi agar situasi itu dibalikkan oleh Allah. Supaya umat Allah melihat kenyataan dari yang mereka imani, bahwa Allah hidup, bertindak sesuai kasih dan kebenaran-Nya.

Apa jadinya bila Allah tidak saja menunda malah meninggalkan kita? Itulah kengerian yang tak tertanggungkan. Tetapi itu justru dialami oleh Yesus. Ia menanggung itu supaya kegelapan ngeri maut akibat dosa tak perlu kita alami lagi! Maka jangan pernah kembali lagi ke dalam gelap dosa.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran