|
Judul: "Tindaklah mereka, ya Allah"
Anda pernah merasakan kejamnya sesama? Ada pemikir pernah mengatakan
bahwa manusia adalah serigala terhadap sesamanya. Dan ini benar
terbukti dalam banyak pengalaman kita. Ini pulalah yang
diutarakan pemazmur.
Dalam pembacaan kemarin, pemazmur mengeluhkan ke-jamnya sesama yang
menjadikan dirinya menjadi objek gosip. Ketika berharap belas
kasihan, yang ia dapat nihil! Ketika mencari penghiburan, ia
malah menerima racun! Bahkan orang-orang itu bersyukur karena
pemazmur menderita (ayat 23).
Ada tiga respons pemazmur yang bisa kita tiru. Pertama, berulang kali
ia menyebut bahwa Allah "mengenal" celaku, maluku, dan nodaku
(ayat 20). Penderitaan jadi alat yang memperdalam pengenalan akan
Tuhan, mempertebal kesadaran bahwa pertolongan hakiki datang dari
Allah bukan dari manusia. Kini ia tidak saja mengakui kasih setia
dan pertolongan Allah, ia juga mengenali keterlibatan Allah dalam
hidupnya.
Kedua, pemazmur memohon agar Tuhan bertindak. Antara membela yang
benar dan menghukum orang yang menyebabkan penderitaan orang
benar, tidak dapat dipisahkan. Maka pemazmur meminta agar amarah
Tuhan dicurahkan (ayat 25 dst.). Namun jangan kira bahwa doa ini
keluar dari hati yang membenci, melainkan dari hati yang sadar
bahwa kemuliaan Allah sendiri yang dipertaruhkan. Jika Allah
menegakkan kemuliaan, tentu akan ada hukuman setimpal!
Ketiga, betapa indah bahwa ratapan melalui gumulan doa yang dalam
berangsur menjadi pujian (ayat 30-37). Ini bukan kesukaan karena
kemenangan pribadi. Pemazmur menaikkan pujian yang menegaskan
kebenaran, kesetiaan, kebaikan, keadilan Allah (ayat 34), juga
supaya orang lain dikuatkan iman oleh kesaksian pujiannya (ayat
33). Pujian demikian menyukakan Allah dan bernilai lebih indah
daripada persembahan kurban. Melalui penderitaan, pemazmur
dimungkinkan menaikkan pujian dengan dimensi yang makin dewasa.
Ia menjadi bagian dari paduan suara kosmis (ayat 35), dan menatap
jauh ke depan dalam pengharapan eskatologis (ayat 36-37).
|