Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Kisah Para Rasul 8:4-25
< Juli
2009
>
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Jumat, 24 Juli 2009

Judul: Penginjilan secara utuh
Dari laporan Lukas, kita dapat menyimpulkan bahwa Simon, si tukang sihir, telah menjadi percaya melalui pelayanan Filipus (ayat 13). Tangan Tuhan nyata berkarya melalui mukjizat yang menyertai pemberitaan Filipus. Simon pun takjub melihat kuasa Allah yang dinyatakan melalui Filipus. Lalu terjadilah kebangunan rohani di Samaria: kuasa Allah nyata dan Injil diterima. Maka kota itu bersukacita (ayat 8).

Petrus dan Yohanes, yang datang kemudian, menumpangkan tangan atas orang-orang Samaria agar mereka beroleh Roh Kudus (ayat 15-17). Melihat hal itu, Simon tertarik untuk memperoleh kuasa yang mereka miliki. Ia ingin bisa melakuan apa yang mereka lakukan. Ia malah bersedia membeli kuasa itu. Mungkin ini aneh buat kita. Namun kalau kita perhatikan latar belakang Simon, sebenarnya hal itu tidak mengejutkan. Sebab bisa saja sebelumnya ia harus keluar uang untuk belajar ilmu sihir. Jadi ia mengira bahwa ia perlu membayar kedua rasul agar dapat memiliki "ilmu ajaib" itu. Masalahnya, ia tidak paham bahwa kekristenan dan sihir adalah dua dunia yang berbeda, bagai terang dan gelap. Maka teguran keraslah yang kemudian ia terima dari Petrus (ayat 20-23). Bagi Petrus, ini masalah serius. Permintaan Simon menunjukkan kesalahpahaman konsep Kristen bahwa kuasa yang dimiliki para rasul untuk melayani merupakan anugerah. Bukan dibeli dan sebaliknya, tidak dapat dibeli. Pertobatan Simon ternyata belum membersihkan konsep-konsep yang berlawanan dengan ajaran Kristen. Ia masih berpikir seperti ketika ia masih menjadi tukang sihir.

Ini menjadi pelajaran bagi gereja dalam mengabarkan Injil. Perlu dengan jelas dipahami bahwa pertobatan seharusnya merupakan perubahan radikal. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga konsep dan pola pikir. Maka bila seluruh kebenaran Injil tidak dapat disampaikan dalam suatu KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), gereja harus bertanggung jawab untuk mengupayakan tindak lanjut agar para petobat baru dapat dibina hingga iman mereka bertumbuh.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran