|
Judul: Penginjilan secara utuh
Dari laporan Lukas, kita dapat menyimpulkan bahwa Simon, si tukang
sihir, telah menjadi percaya melalui pelayanan Filipus (ayat 13).
Tangan Tuhan nyata berkarya melalui mukjizat yang menyertai
pemberitaan Filipus. Simon pun takjub melihat kuasa Allah yang
dinyatakan melalui Filipus. Lalu terjadilah kebangunan rohani di
Samaria: kuasa Allah nyata dan Injil diterima. Maka kota itu
bersukacita (ayat 8).
Petrus dan Yohanes, yang datang kemudian, menumpangkan tangan atas
orang-orang Samaria agar mereka beroleh Roh Kudus (ayat 15-17).
Melihat hal itu, Simon tertarik untuk memperoleh kuasa yang
mereka miliki. Ia ingin bisa melakuan apa yang mereka lakukan. Ia
malah bersedia membeli kuasa itu. Mungkin ini aneh buat kita.
Namun kalau kita perhatikan latar belakang Simon, sebenarnya hal
itu tidak mengejutkan. Sebab bisa saja sebelumnya ia harus keluar
uang untuk belajar ilmu sihir. Jadi ia mengira bahwa ia perlu
membayar kedua rasul agar dapat memiliki "ilmu ajaib" itu.
Masalahnya, ia tidak paham bahwa kekristenan dan sihir adalah dua
dunia yang berbeda, bagai terang dan gelap. Maka teguran keraslah
yang kemudian ia terima dari Petrus (ayat 20-23). Bagi Petrus,
ini masalah serius. Permintaan Simon menunjukkan kesalahpahaman
konsep Kristen bahwa kuasa yang dimiliki para rasul untuk
melayani merupakan anugerah. Bukan dibeli dan sebaliknya, tidak
dapat dibeli. Pertobatan Simon ternyata belum membersihkan
konsep-konsep yang berlawanan dengan ajaran Kristen. Ia masih
berpikir seperti ketika ia masih menjadi tukang sihir.
Ini menjadi pelajaran bagi gereja dalam mengabarkan Injil. Perlu
dengan jelas dipahami bahwa pertobatan seharusnya merupakan
perubahan radikal. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga konsep
dan pola pikir. Maka bila seluruh kebenaran Injil tidak dapat
disampaikan dalam suatu KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), gereja
harus bertanggung jawab untuk mengupayakan tindak lanjut agar
para petobat baru dapat dibina hingga iman mereka bertumbuh.
|