|
Judul: Karena Engkau, aku menanggung cela
Ada seorang ibu yang banyak menderita. Ia pernah mengalami sakit
hebat karena kecelakaan saat mengerjakan urusan rumahtangga. Ia
pernah menderita fisik karena harus bekerja keras mencari
tambahan nafkah sesudah suaminya pensiun. Ia pernah mengalami
ketidakadilan. Puji Tuhan, dalam anugerah ia dapat mengatasi
semua itu.
Pemazmur menderita lebih berat lagi. Penderitaan apakah yang dia
gambarkan sebagai banjir atau rawa yang membuat dia nyaris
tenggelam (ayat 2-3)? Yang membuat ia berdoa tanpa henti dan
karena begitu sering berkeluh-kesah membuat kerongkongannya
kering dan matanya nyeri (ayat 4)? Ia sadar bahwa ia adalah
manusia biasa yang berdosa (ayat 6). Namun jelas bahwa
penderitaan yang dia tanggung bukanlah hukuman Tuhan atas
dosa-dosanya. Ia menderita karena keberpihakannya kepada Allah
membuat orang membenci dia. Dan dunia ini kejam sekali. Mereka
berkomplot melawan orang yang mengasihi Allah (ayat 5). Bahkan,
entah karena ikut berkomplot atau karena takut terkena "getah,"
sanak saudaranya ikut membuang dia (ayat 9). Itulah penderitaan
terberat, karena orang-orang terdekat menganggap dia sebagai
orang berbahaya dan harus disingkirkan. Ia juga jadi objek
sindiran (ayat 13).
Penderitaan, dalam terang Alkitab adalah senjata Allah menangguhkan
iman (lih. Rm. 5:3-5; 1Ptr. 1:6-7). Dalam hal pemazmur,
penderitaan membuat dia rindu akan pemulihan rohani yang bukan
untuk kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain. Ia
mengharapkan pelepasan supaya orang beriman lainnya tidak tawar
hati (ayat 7). Namun berkat terindah dari menanggung cela karena
Allah ialah penegasan iman kepada perkenan Allah, kasih
setia-Nya, dan pertolongan-Nya (ayat 14). Irama sumbang para
pengejeknya kini menyingkir menjadi latarbelakang yang tak
berarti. Orang yang menderita ini masuk ke dalam hadirat kasih
anugerah Allah yang ajaib. Kepada Allah, ia mempertaruhkan
kasusnya. Dari Allah, ia beroleh peluputan yang mengalir semata
dari anugerah perjanjian Allah yang terpercaya!
|