|
Judul: Untuk orang lain juga
Ucapan berkat yang tertulis di ayat 2 cukup akrab bagi kita karena
selalu kita dengar diucapkan oleh pendeta untuk mengakhiri ibadah
Minggu. Ucapan berkat ini juga diucapkan imam pada umat Israel
(Bil. 6:24-26). Ada tiga aspek berkat yang kita lihat dalam
bagian itu, yaitu perlindungan (Bil. 6:24), kasih karunia (Bil.
6:25), dan damai sejahtera (Bil. 6:26).
Berkat-berkat itulah yang pemazmur harapkan dari Allah. Berkat itu
bisa diperoleh Israel pada saat Allah berkenan atas mereka (ayat
2). Namun pemazmur ternyata berbeda dari kebanyakan orang yang
hanya memusatkan berkat untuk diri saja. Pandangannya begitu
jauh, melewati pintu-pintu Bait Allah dan melampaui batas-batas
temboknya. Bagi pemazmur, belas kasihan dan berkat Allah harus
mengalir bagi seluruh umat manusia. Maka berkat yang diterima
bangsa pilihan Allah, seharusnya menjadi kesaksian bagi dunia
agar dunia mengenal Allah (ayat 3). Sebab bangsa-bangsa lain pun
perlu mengenal Allah. Mereka juga membutuhkan kasih karunia-Nya.
Selanjutnya dari mulut bangsa-bangsa akan mengalir puji-pujian
kepada Allah, karena mereka mengetahui bahwa Dialah Allah dan Dia
berkuasa (ayat 4-6).
Mari bandingkan pandangan pemazmur tentang berkat dengan pandangan
kita, yang hidup di zaman ini. Banyak ajaran tentang berkat yang
dikumandangkan sekarang ini hanya berorientasi pada diri sendiri.
Dan tekanannya adalah pada kemakmuran ekonomi atau keberhasilan
dalam bisnis atau pekerjaan. Akibatnya orang terfokus untuk
memikirkan bagaimana cara mendapatkan berkat, tidak lagi pada
Allah sebagai sumber berkat. Juga tak sampai terpikir bahwa orang
lain pun memerlukan berkat Allah.
Kita, yang telah menerima berbagai berkat Allah, hendaknya tidak
menyimpannya hanya untuk diri sendiri saja. Alamilah kepenuhan
anugerah Allah dengan membagikan berita keselamatan, agar semakin
banyak orang yang menikmati anugerah Allah.
|