Bacaan : Esther 7
Seorang bapak membawa anaknya ke sebuah lembah. "Nak, coba kamu
teriakkan sebuah kata," ujarnya. "Untuk apa, Pak?" tanya sang anak.
"Coba saja," kata bapak itu lagi. Sang anak menurut. Ia beranjak ke
ujung lembah. "Hai!" teriaknya. Sejenak sepi. Tetapi tidak lama
kemudian terdengar suara gema dari arah lembah, "Hai... hai...
hai..." Begitu pula dengan setiap kata yang diteriakkannya setelah
itu. Kembali dengan kata yang sama. Bapak itu pun membukakan hikmah
yang hendak ia ajarkan. "Nak, seperti itulah hidup kita. Apa yang
kita tabur, itu juga yang akan kita tuai," katanya.
Bacaan hari ini mencatat kejadian yang membuktikan tentang hukum
tabur tuai tersebut. Haman-seorang pejabat tinggi negara, sangat
membenci Mordekhai-seorang pria Yahudi (Ester 3:5). Ia pun mendirikan
tiang untuk menggantung Mordekhai. Lalu menyarankan kepada raja
supaya mengadakan upacara penghormatan bagi orang yang telah berjasa
kepada raja (ayat 7-9). Sangka Haman, dirinyalah yang akan
dianugerahi kehormatan itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Raja memberikan kehormatan kepada Mordekhai (ayat 10). Sedang tiang
yang Haman dirikan, akhirnya justru digunakan untuk menggantung
dirinya (Ester 7:10).
Menabur dan menuai adalah dua hal yang saling terkait. Tidak saja
dalam dunia pertanian, tetapi juga dalam hidup sehari-hari. Ketika
kita menanam benih padi yang baik, biasanya kita pun akan menuai padi
yang baik. Bila kita menabur kebaikan, pada saatnya kita akan menuai
kebaikan. Sebaliknya bila kita menabur keburukan, maka pada saatnya
juga kita akan menuai keburukan. Seperti Haman. Dan semoga bukan
seperti kita -AYA
HIDUP BAGAI BUMERANG, APA YANG KITA LEMPARKAN
ITU JUGA YANG KEMBALI
|