Bacaan : 1Samuel 4:16-22
Tiga orang anak sedang bermain lomba adu cepat mobil-mobilan. Sebelum
lomba dimulai, salah seorang anak tampak berdoa dengan khusyuk.
Setelah lomba berakhir, ternyata anak yang berdoa itu memenangkan
pertandingan. Seorang temannya bertanya, "Tadi sebelum lomba kamu
berdoa supaya Tuhan membuat mobil-mobilanmu menang ya?" Anak itu
menjawab, "Tidak. Saya berdoa kepada Tuhan, supaya kalau kalah saya
tidak menangis."
Ketika bangsa Israel mengalami kekalahan hebat dalam peperangan
melawan bangsa Filistin; tabut Allah dirampas, ditambah lagi kedua
anaknya tewas, hingga Imam Eli amat sangat terpukul. Ia begitu syok,
sampai kemudian terjatuh dan mati (ayat 18).
Menghadapi kekalahan memang tidak mudah. Bukan hanya dalam
perkara-perkara besar, bahkan juga dalam hal-hal yang kelihatannya
sepele, seperti ketika kita beradu pendapat dengan orang lain dalam
sebuah diskusi. Tidak heran kalau kemudian banyak orang yang tidak
bisa menerima kekalahan, kemudian merasa malu, marah, kecewa, dan
kesal, setelah itu mengambek, menangis, bahkan mendendam. Tidak
sedikit pula yang lantas malah membuat kesalahan dan memunculkan
masalah baru.
Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak tenggelam dalam kekalahan?
Pertama, terimalah kekalahan sebagai bagian dari kehidupan. Hidup
seperti roda yang berputar; ada saatnya kita berada di atas, ada
saatnya kita berada di bawah. Kedua, lihatlah kekalahan sebagai
sarana bagi kita untuk belajar rendah hati dan bergantung kepada
Tuhan. Ketiga, ingatlah bahwa di balik setiap kejadian yang Tuhan
izinkan terjadi pasti ada hikmahnya -AYA
KEKALAHAN TERBESAR ADALAH
KETIKA KITA TIDAK BISA MENERIMA KEKALAHAN
|