Bacaan : Roma 13:1-7
Tanggal 1 Desember 1955, suatu sore di Montgomery, Alabama. Seorang
penjahit wanita kulit hitam tampak lelah ketika pulang bekerja. Ia
naik bus dan duduk di baris terdepan, di bangku yang disediakan bagi
orang kulit hitam. Seorang pria kulit putih menyusul naik bus. Bangku
bagi orang kulit putih sudah penuh. Kemudian ia memerintahkan wanita
kulit hitam itu untuk pindah sesuai peraturan yang berlaku.
Wanita itu bergeming. Ia menolak pindah sebagai sikap tak setuju
terhadap peraturan yang rasis itu. Maka ia ditangkap dan didenda
karena melanggar hukum kota setempat. Wanita pemberani itu seorang
kristiani bernama Rosa Parks. Peristiwa "pembangkangan kecil"-nya
menyulut gerakan menuntut hak-hak sipil yang bertujuan mengakhiri
segregasi (pemisahan) legal di Amerika.
Alkitab mendorong kita untuk tunduk pada pemerintah-atau otoritas
yang lebih tinggi (ayat 1,2). Namun, orang kristiani juga jangan
takut untuk bersikap bila ada peraturan yang salah (ayat 3). Yesus
dan murid-murid-Nya juga berani bersikap demi menjunjung standar
moral Allah (Matius 21:23-27). Meskipun dengan melakukannya, mereka
harus membayar harga mahal, bahkan ada yang sampai dihukum mati.
Mereka memilih untuk lebih menghormati Allah daripada menaati
pemerintah (Kisah Para Rasul 4:19,20).
Kita memang perlu patuh kepada pemerintah, tetapi kita juga harus
tetap bersikap kritis terhadap pemerintah. Bila pemerintah
mengeluarkan peraturan yang menyimpang dari standar kebenaran Allah,
kita harus memperjuangkan pembatalannya. Kalaupun terpaksa "tidak
patuh" seperti Rosa Parks tadi, kiranya kita dimampukan menanggung
konsekuensinya -ARS
KEPATUHAN KEPADA PEMERINTAH
HARUS DISELARASKAN DENGAN KEPATUHAN KEPADA ALLAH
|