Bacaan : Kejadian 12:1-4
Setelah lebih dari 25 tahun mengabdi, Pak Riko dimutasi oleh
atasannya dari kantor pusat di Jakarta ke kantor cabang di
Palangkaraya. Pak Riko panik. Baginya hanya ada dua pilihan: mutasi
atau berhenti. Pindah ke tempat baru sungguh tak terbayangkan. Ia
sudah mapan. Seluruh keluarganya ada di Jakarta. Istri dan keempat
anaknya juga sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta. Pindah tempat
berarti harus memulai lagi semuanya dari nol.
Meninggalkan kemapanan hidup memang bukan perkara mudah. Ketika Abram
dipanggil Tuhan untuk meninggalkan negerinya, ia pun pasti bergumul
berat. Pada usia 75 tahun, Abram tentu sudah sangat mapan. Sudah
menyatu dengan lingkungan Ur-Kasdim. Lantas, mengapa Tuhan
menyuruhnya pergi jauh? Rupanya Abram hidup dalam lingkungan
penyembah "allah lain" (Yosua 24:2). Keluarga dan masyarakatnya
menyembah dewa-dewi Babel. Setelah Abram beriman, Tuhan memintanya
pergi membangun sebuah generasi baru yang takut akan Tuhan. Ada janji
yang indah: dari Abram akan lahir bangsa yang besar. Namun janji itu
baru terwujud jika ia berani meninggalkan kemapanan. Akhirnya Abram
berangkat juga. Apa dasarnya? Iman! Imanlah yang memberanikan orang
menerobos kemapanan.
Ada saat dalam hidup di mana kita perlu meninggalkan zona nyaman.
Misalnya, saat pindah kerja, membuka bisnis baru, memasuki
pernikahan, atau saat kita kehilangan apa yang kita andalkan. Jika
saat itu tiba, jangan takut melangkah. Jangan menunggu sampai semua
sudah tampak pasti, baru bertindak. Beriman berarti memberanikan diri
melangkah dengan terus melihat ke mana Tuhan akan memimpin -JTI
KITA BERANI MAJU KARENA MEYAKINI PIMPINAN TUHAN
BUKAN KARENA KEPASTIAN MASA DEPAN
|