Bacaan : Bilangan 14:40-45
Waktu kecil, bila saya membandel dan tidak menyimak perintah
orangtua, mereka akan berkomentar, "Kuping itu jangan jadi kuping
panci, cuma ditempel di kepala, tapi tidak dipakai untuk
mendengarkan." Maknanya sama dengan ungkapan: "masuk telinga kiri,
keluar telinga kanan." Menunjukkan kesembronoan kita dalam mendengar,
yang bisa berakibat fatal. Ini pula yang kerap membuat bangsa Israel
gagal menghadapi persoalan, terutama ketika melintasi padang gurun.
Mereka tidak mendengarkan dengan baik. Bacaan kita memuat contoh
bagaimana mereka tak memedulikan teguran Musa; tetap nekad masuk ke
Kanaan, dan gagal.
Kesungguhan kita dalam mendengar dan menanggapi firman Tuhan akan
menentukan pertumbuhan iman kita (Roma 10:17). Tak ada rumus baku
serta cara pintas mengenai cara membuang "kuping panci" dan memiliki
telinga yang peka mendengar suara Tuhan. Satu-satunya cara adalah
dengan melatih telinga rohani secara tekun dan teratur.
Pertama, kita perlu mengambil waktu untuk menyendiri dan mencari
suasana sunyi, agar kita punya situasi kondusif untuk mendengarkan
suara Tuhan yang lembut. Selanjutnya, dalam kesunyian ini, jangan
biarkan pikiran menjadi kosong. Gunakan waktu tersebut untuk
mengambil suatu bagian kecil firman Tuhan, dan merenungkannya.
"Cerna" bagian tersebut sungguh-sungguh dan gali maknanya sedalam
mungkin. Bila perlu, bandingkan dengan bagian-bagian lain yang serupa
dalam Alkitab sebagai referensi, kemudian ambillah penerapan praktis
dalam hidup Anda. Ketika kita terlatih untuk mendengarkan Tuhan, kita
akan semakin memahami pola pikir dan kehendak Allah bagi kita -ARS
MENDENGARKAN ADALAH PINTU
MENUJU PENGERTIAN DAN PERUBAHAN
|