Bacaan : 2Samuel 12:13-24
Setelah David dan istrinya selesai makan pagi, mereka bersiap pergi.
Adriana, putri mereka yang baru berusia 2,5 tahun mengikuti ibunya ke
kamar. David memanaskan mobil di garasi. Setelah semua siap, ia
memundurkan mobil. Tiba-tiba roda mobil melindas sesuatu. David turun
dan kaget bukan main. Ia telah melindas Adriana! Anak itu rupanya
berjalan keluar garasi tanpa diawasi, lalu terlindas dan tewas
seketika. David dan istrinya diliputi rasa bersalah luar biasa. Sulit
mengampuni diri sendiri. Pikirnya, "Adriana mati karena kecerobohan
kami!"
Raja Daud pernah dihinggapi rasa bersalah serupa. Akibat dosa
berzinah dengan Batsyeba, Tuhan menulahi bayi mereka hingga sakit.
Daud berusaha keras memohon belas kasihan Tuhan, agar anak itu bisa
tetap hidup. Tujuh hari ia berpuasa dan berbaring di tanah. Namun
akhirnya anak itu tetap mati! (ayat 18). Semua ini gara-gara ulahnya.
Hati Daud pasti dihantui rasa bersalah. Uniknya, setelah kematian
anaknya, ia kembali mau makan dan melanjutkan hidup seperti biasa
(ayat 20). Daud tak membiarkan diri dikuasai rasa bersalah. Ia sadar,
jika suatu hal tak bisa lagi diubah, kita harus menerima kenyataan,
seberapapun pahitnya. Berdamai dengan diri sendiri, berbenah diri,
dan melanjutkan hidup ke depan. Itu lebih sehat ketimbang terjebak di
masa lalu.
Adakah rasa bersalah yang masih menghantui hidup Anda? Seringkah Anda
berkata, "Seandainya aku melakukan ini, itu pasti tak akan terjadi"?
Berhentilah hidup dalam penyesalan. Tuhan telah mengampuni kesalahan
Anda. Jadi Anda pun harus mengampuni diri sendiri -JTI
RASA BERSALAH YANG TIDAK DISELESAIKAN
BAGAI RACUN YANG MEMATIKAN
|