Bacaan : Mazmur 73:1-5, 21-26
Aku memanggil-Mu, ingin bergantung pada-Mu, tetapi Engkau tak
menjawab. Aku sendirian .... Di mana imanku? Yang ada hanya kehampaan
dan kegelapan." Demikianlah Ibu Teresa menuliskan salah satu
suratnya. Ketika surat-surat pribadinya dipublikasikan, orang kaget.
Tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang rohaniwan terkenal seperti
dia bisa mengalami kebimbangan hidup? Bahkan, meragukan imannya?
Bukankah dunia mengenalnya sebagai tokoh yang begitu mencintai Tuhan
dan sesama?
Hal ini tidak mengherankan. Pemazmur pun pernah bimbang akan
kehadiran Tuhan. "Seperti hewan aku di dekat-Mu," katanya. Anjing
peliharaan hanya paham beberapa instruksi tuannya. Pengertiannya
terbatas sekali. Tak bisa ia memahami maksud sang tuan sepenuhnya.
Seperti itulah kondisi pemazmur. Ia tak mengerti, mengapa Tuhan
membiarkan orang jahat hidup enak dan jaya. Ia yang hidup bersih
justru "nyaris tergelincir". Namun ia bertekad, "aku tetap
didekat-Mu." Itulah yang membuatnya tetap bertahan di masa bimbang.
Akhirnya, pelan-pelan Tuhan membukakan rencana-Nya dan membuat ia
mengerti maksud-Nya.
Saat hidup tampak tidak adil, bisa jadi kita pun bimbang. Merasa
Tuhan seolah-olah tak ada dan tak berkuasa. Kita meragukan
pimpinan-Nya. Ini wajar. Tiap orang percaya pernah mengalaminya. Yang
penting bagaimana sikap kita ketika menjalani masa itu. Dalam
kebimbangan, Ibu Teresa tetap giat melayani sesama. Pemazmur memilih
tetap mendekat pada Tuhan. Kita pun dapat memilih untuk tetap ada di
jalan-Nya, sekalipun ada saat di mana hadir-Nya tidak nyata terasa
-JTI
MATAHARI SELALU ADA SEKALIPUN AWAN MENUTUPINYA
TUHAN SELALU ADA SEKALIPUN MASALAH KITA MENUTUPINYA
|