Bacaan : Yohanes 16:7-15
Roberto Salazar, bocah 6 tahun, jarang menangis. Ia menderita
penyakit langka; Hereditary Sensory and Autonomic Neuropathy, sebuah
penyakit yang membuatnya tidak bisa merasakan sakit. Pernah ia gigit
lidahnya sendiri sampai hampir putus. Orangtuanya panik, namun ia
tenang saja. Kali lain Roberto terjatuh. Kakinya terluka, tetapi ia
tidak menjerit minta tolong. Ia bangun dan berjalan lagi dengan luka
menganga. Kondisi ini sangat berbahaya. Tubuhnya bisa terbakar atau
terpotong tanpa disadari. Rasa sakit memang tidak enak, tetapi perlu
untuk menyadarkan kita jika ada yang tidak beres.
Roh Kudus sering memberikan "rasa sakit" ketika orang beriman berbuat
dosa. Dia menegur dan memberi peringatan, supaya kita insaf. Dia
mengingatkan kita kembali akan perkataan-perkataan Kristus (ayat
13,14). Sebagai Roh Kebenaran, Dia bertugas memimpin kita ke dalam
seluruh kebenaran. Jadi, Dia tidak bisa tinggal diam waktu kita
berbuat dosa. Dia akan menegur. Teguran-Nya mungkin terasa sakit dan
menciptakan rasa bersalah di hati. Namun, ini perlu agar kita
mendapatkan kesempatan untuk berbalik ke jalan Tuhan. Tanpa teguran,
dengan mudah kita dapat disesatkan oleh pelbagai godaan. Seperti
Roberto, kita bisa menjadi mati rasa terhadap dosa. Dan, bisa-bisa
kita sudah terseret jauh sebelum sempat menyadarinya.
Bersyukurlah jika Roh Kudus masih menegur dan membuat Anda merasa
bersalah ketika berbuat dosa. Itu tandanya Dia masih berkarya dalam
diri Anda. Dengarkan dan hargailah teguran-Nya! Jangan sampai hati
Anda kebal, hingga merasa nyaman berbuat dosa -JTI
BAGI MEREKA YANG MENOLAK TEGURAN ROH KUDUS
KEGELAPAN ITU TERLIHAT TERANG
|