Bacaan : 2Korintus 13:1-10
Anda adalah orang yang ...; menurut saya, Anda cenderung ...; seperti
yang sering saya katakan, Anda itu ...." Demikianlah contoh ungkapan
sehari-hari yang sering ditujukan kepada kita, atau sebaliknya, kerap
kita tujukan kepada orang lain. Ya, manusia cenderung lebih pintar
menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri. Padahal, ketika
satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah
ke diri sendiri.
Paulus mengajak jemaat Korintus untuk lebih banyak menyelidiki diri
sendiri ketimbang menilai orang lain (2Korintus 13:5). Sebab bagi
Paulus, menyelidiki diri sendiri sangat penting dalam pertumbuhan
rohani. Saat seseorang berani menyelidiki diri sendiri, berarti ia
berani melihat kondisi hidupnya apa adanya, termasuk kelemahannya.
Dengan menyadari kelemahan diri sendiri, orang dapat bercermin dan
terbuka kepada Allah yang menyelidiki hati. Lalu mengambil langkah
untuk memperbaiki diri. Hasilnya, ia lebih tahan uji dibandingkan
mereka yang tak pernah memeriksa batin sendiri dan malah asyik
menilai apa yang tampak dari orang lain.
Sudahkah kita membangun kebiasaan untuk menyelidiki diri sendiri?
Atau, kita hanya pintar "mengutak-atik" hidup orang lain dan marah
apabila orang lain meneliti hidup kita? Mari memperbanyak waktu untuk
melihat ke dalam diri supaya kita lebih waspada dan juga toleran
terhadap orang lain. Orang yang selalu sedia memeriksa batinnya
setiap saat ibarat seseorang yang rajin membersihkan rumahnya dari
debu dan sampah. Hati kita pun akan bersih bila kita bersedia selalu
membersihkannya bersama dengan Allah -DKL
BERANILAH MELIHAT KE DALAM DIRI
AGAR KELUAR BUAH YANG BAIK DARI HIDUP INI
|