Bacaan : Roma 15:5-7
Menjelang 17 Agustus 1945, Bung Karno pernah diculik oleh para pemuda
agar segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Pada hari H-nya, ia
didesak teman-teman yang sudah berkumpul di rumahnya. Namun Soekarno
berkata, "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak
ada." Pertimbangannya adalah: Soekarno orang Jawa, sementara Hatta
orang Sumatra. "Demi persatuan," tambahnya. Bung Karno menyadari
betul, bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, yang mencakup beragam
suku. Karenanya tidak ada bentuk negara yang lebih baik selain negara
kesatuan. Dalam negara kesatuan, perbedaan dihargai.
Dalam hidup bermasyarakat dan bergereja, sangat mudah menemukan orang
lain yang berbeda dengan kita; mulai dari hitam-putihnya kulit,
lebar-kecilnya mata, lurus-ikalnya rambut, ragamnya aksen dan dialek,
sampai "kotak-kotak" baru, seperti partai politik dan denominasi
gereja. Dan karena perbedaan itu, kita pun merasa terpisah.
Namun, sebagaimana para pendiri negeri ini rindu menciptakan bangsa
yang bersatu dalam kepelbagaian yang ada, marilah kita hidupi pula
semangat bersatu dalam kepelbagaian ini. Jauhkan sikap
membeda-bedakan. Mohon Tuhan mengaruniakan kerukunan kepada kita
(ayat 5). Sambil kita juga berperan aktif bagi terciptanya kerukunan
itu dengan memupuk sikap saling menerima seperti yang dicontohkan
Kristus (ayat 7). Jangan biarkan perbedaan itu memisahkan kita,
sebaliknya biarkan itu menjadi kekayaan di hidup kita.
Saatnya Indonesia bersatu. Saatnya Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan di
negeri ini. Dan, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri di
lingkungan yang paling dekat -AW
KEINDAHAN PELANGI JUSTRU TAMPAK
SAAT IA MENJAJARKAN WARNA-WARNA YANG BERBEDA
|