Bacaan : Mazmur 130
Ketika menjalani pendidikan militer, saya benci bila harus menunggu.
Kami sering diberi aba-aba untuk bergegas keluar dari barak dan
berbaris. Di sana kami akan berdiri lalu menunggu, menunggu, dan
menunggu aba-aba selanjutnya. Ketika hendak mendapat vaksinasi, kami
pun berdiri dalam barisan dan menunggu.
Saya juga sering menunggu di stasiun-stasiun bis dan kereta ketika
saya cuti. Saya juga tidak menikmati saat-saat menunggu itu, tetapi
penantian ini berbeda. Penantian ini adalah penantian dengan
harapan. Dalam penantian itu saya tahu bahwa ketika tiba di rumah
nanti, saya akan disambut oleh istri saya Ginny dan orang-orang yang
terkasih.
Penantian ini serupa dengan penantian yang dipaparkan oleh penulis
Mazmur 130. Ia tengah berada dalam terowongan keputusasaan karena
merasa bersalah atas dosa-dosanya (ayat 1-3), tetapi ia telah berdoa
serta memperoleh jaminan pengampunan (ayat 4). Selanjutnya ia
menjelaskan bahwa Allah sendirilah yang ia nanti-nantikan, bukan
pengampunan-Nya saja (ayat 5). Ia menanti dengan pengharapan,
seperti seorang penjaga malam yang tahu bahwa matahari akan terbit
di pagi hari (ayat 6).
Ketika kita terluka atau tertekan karena dosa-dosa kita, kita dapat
menengadah dan menanti dengan penuh harapan. Tuhan akan datang!
Entah melalui janji yang langsung dari firman-Nya, nasihat bijak
dari seorang teman, atau kesaksian Roh Kudus, Dia pasti akan
menjawab kebutuhan-kebutuhan kita, sepasti mentari pagi yang selalu
datang untuk menghalau kegelapan malam –Herb Vander Lugt
BARANGSIAPA MENANTI-NANTIKAN ALLAH
TIDAK AKAN PERNAH KECEWA
|