Bacaan : Mazmur 29
Musim panas yang kering dan panjang di Libanon dan Israel biasanya
berakhir di bulan Oktober, ditandai dengan datangnya hujan yang
sering disertai angin kencang, kilat, dan halilintar.
Mazmur 29 mungkin sedang berpikir tentang badai musim gugur yang
bergerak dari Laut Mediterania menyeberangi Libanon (ayat 5),
menuruni padang gurun (ayat 8), dan menuju bait suci Yerusalem (ayat
9). Ia menyebut bagian-bagian badai sebagai "suara TUHAN" (ayat 3).
Ia juga berbicara tentang tanggapan sukacita para penyembah Tuhan
yang berseru, "Hormat!" (ayat 9). Mazmur ini ditutup dengan
pernyataan bahwa umat Allah menikmati kedamaian yang hanya datang
dari Dia (ayat 11).
Melihat dan mendengarkan gemuruh badai yang ganas merupakan
pengalaman yang mengagumkan. Pengalaman itu secara alamiah dapat
mengingatkan kita kepada Allah. Dalam Roma 1:20, Paulus berkata
kepada para pembacanya bahwa kekuatan Allah yang kekal dan
keilahian-Nya tampak nyata dalam dunia yang diciptakan-Nya. Dia
membuat diri-Nya dikenal melalui alam. Saya telah berulang kali
mendengar "suara-Nya" dalam keheningan hutan setelah hujan salju
yang lebat, dalam embusan angin sepoi-sepoi yang lembut, atau dalam
kicauan burung-burung di pagi musim semi.
Ya, Allah berbicara kepada kita melalui ciptaan-Nya yang
mengagumkan. Kekuatan dan keagungan-Nya pasti akan terasa ketika
kita berhenti sejenak untuk mendengarkan. Seperti orang-orang Israel
kuno, marilah kita menanggapi hal ini dengan berseru, "Hormat!"
–Herb Vander Lugt
SELURUH CIPTAAN
MENYANYIKAN PUJIAN BAGI ALLAH
|