Bacaan : Markus 15:16-20
Pada akhir tahun 1940-an, seorang ibu muda terserang polio dan
menjadi cacat. Ia membuat orang terheran-heran ketika melihat
bagaimana ia menerima penderitaan dan mengatur rumah tangganya dari
tempat tidur. Saudara ipar laki-lakinya berkata kepada saya, "Saya
telah sering mendengar pembicaraan tentang ‘anugerah adikodrati,’
tetapi saya tidak pernah tahu apa maksudnya sampai saya melihatnya
sendiri bersinar melalui dia."
Sering kali kita tidak benar-benar mengerti arti kebajikan sampai
kita melihat kebajikan yang muncul dari seseorang. Ingatlah
tanggapan Yesus ketika Dia dianiaya oleh para serdadu. Mereka
memakaikan mahkota duri di atas kepala-Nya, memukuli-Nya, mengenakan
jubah ungu kepada-Nya, serta mengolok-olok Dia (Markus 15:16-20).
Mereka tidak sadar kalau Dia sanggup membunuh mereka hanya dengan
mengatakan sepatah kata.
Kira-kira 35 tahun kemudian, Petrus mengingat kisah itu dengan
jelas. Ia mengatakan bahwa Kristus telah memberi suatu teladan bagi
kita dalam menghadapi penderitaan (1 Petrus 2:18-25). Dalam Yesus,
Allah menjadi satu tubuh dan darah dengan manusia untuk menunjukkan
jati diri-Nya. Karena Yesus hidup dalam diri kita oleh Roh-Nya, Dia
berharap agar kita menjadi contoh yang mencerminkan kebaikan dan
kemuliaan-Nya.
Entah kita menderita seperti ibu yang cacat tadi atau mengalami
siksaan seperti Tuhan Yesus, kita dapat menunjukkan kebajikan yang
sama seperti yang telah ia teladankan di kayu salib – Herb Vander
Lugt.
KASIH ALLAH ADALAH BERKAT DALAM SETIAP PENCOBAAN
|