|
Judul: Gereja, Tubuh Kristus
Salah satu gerakan penting dalam sejarah gereja ialah gerakan
oikumene. Apa yang didoakan dan diusahakan oleh para pemimpin
gereja ini adalah merespons doa Tuhan Yesus, agar "mereka semua
menjadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa di dalam Aku, dan Aku
di dalam Engkau" (Yoh. 17:21). Sungguh suatu visi dahsyat yang
menjadi gairah Yesus sampai merupakan pokok syafaat-Nya sebelum
berpisah dengan para murid-Nya. Namun adalah kenyataan tragis
sebab hal itu sedikit saja terwujud. Memiliki kepekaan bahwa aku
adalah bagian dari saudara-saudara seimanku dalam Kristus
terlepas dari bagaimana pengalaman rohani serta keterhisaban
denominasi yang bersangkutan. Memiliki kesadaran bahwa yang
mengaku, menghidupi, dan berkarya demi dan dalam nama Yesus
adalah seperti aku juga, anggota dari Tubuh Kristus yang Satu!
Kesatuan tersebut jelas bukan bersumber dari kesatuan organisasi,
meskipun mengupayakan adanya payung organisasi yang akrab adalah
penting, melainkan hasil Sang Kepala, Kristus, yang mengaliri
orang Kristen, semua gereja lokal, segenap denominasi Kristen
dengan aliran hidup, daya, dan karya-Nya. Ini adalah visi dan
cita-cita yang layak didoakan, didambakan, dan diusahakan. Namun
kita tahu bahwa ini hanya akan menjadi impian indah tapi hampa
bila kita tidak berbuat apa-apa di tataran jemaat lokal!
Di tataran jemaat lokallah tempatnya kita memperlakukan saudara
seiman benar-benar sebagai saudara dalam iman. Saling mendoakan,
saling memerhatikan, saling tegur, saling mendukung, saling
melayani. Apabila kata "saling" sudah begitu meresap dalam
kepekaan kita berjemaat, maka kita sedang membuat langkah
berarti dalam mewujudkan kenyataan Gereja sebagai Tubuh Kristus!
Renungkanlah, Anda merasa kehilangankah bila ada teman seiman
tidak hadir dalam ibadah hari Minggu? Ataukah Anda merasa kuasa
pelayanan akan berkurang bila Anda tidak bersedia ambil bagian
dalam suatu pelayanan? Hal-hal praktis ini penting kita
aktifkan, sebab Gereja, Tubuh Kristus itu bukan sesuatu yang di
surga kelak. Kini dan di dalam kita! Dan bila kesadaran ini
meluas ke relasi oikumenis, ah alangkah dahsyatnya!
|