|
Judul: Yesus dan anak-anak
Dalam pelayanan-Nya, Yesus memberi perhatian kepada anak-anak
karena sikap mereka yang tulus, mudah mengampuni, rendah hati,
dan penuh ketergantungan kepada orang lain. Yesus menggunakan
mereka sebagai contoh bagi para murid untuk hidup rendah hati
dan tulus. Yesus juga menegaskan bahwa penyambutan terhadap
mereka berarti juga penyambutan terhadap Dia (ayat 18:5).
Menarik melihat Matius menempatkan kisah ini setelah kontroversi
mengenai perceraian. Betapa banyak anak-anak yang menjadi korban
perceraian. Hidup mereka rusak karena orang tua yang egois,
memilih jalan pintas hanya untuk kepentingan mereka sendiri.
Orang tua seperti itu ibarat penyesat-penyesat yang telah
dipaparkan Yesus pada perikop sebelum ini (lih. Mat. 18:6-7).
Sikap Yesus yang begitu baik dan lembut terhadap anak-anak, belum
menular dalam diri para murid-Nya. Bagi para murid, anak-anak
hanya mengganggu dan merepotkan orang dewasa. Itulah sebabnya
para murid memarahi orang-orang yang membawa anak-anak mendekati
Yesus. Tindakan para murid pasti mengecewakan mereka. Mungkin
mereka berharap Yesus dapat mendoakan dan memberkati anak-anak
itu. Namun Yesus yang tanggap dan peduli tidak membiarkan hal
itu berlangsung lama. Ia menegur para murid agar tidak
menghalangi mereka untuk datang kepada-Nya. Mereka pun kemudian
punya kesempatan untuk mendapatkan keselamatan dan hidup kekal.
Yesus sendiri menegaskan bahwa mereka adalah yang empunya
kerajaan sorga karena termasuk golongan yang paling mudah
tersentuh kuasa Injil dan percaya kepada Yesus. Ini yang mereka
nyatakan di pelataran Bait Allah dengan memuji-muji Yesus (Mat.
21:15-16).
Kita harus meneladani Yesus dalam mengasihi dan memberkati
anak-anak. Caranya adalah dengan mendidik dan mengajari mereka
sejak dini agar mengenal Yesus dan menjadi anak-anak yang takut
akan Tuhan. Ingatlah bahwa jiwa mereka pun berharga di mata
Tuhan.
|