|
Judul: Firman Tuhan yang utama
"Mengutamakan hal yang utama" tampaknya bukan menjadi perhatian
pokok orang Farisi dan ahli Taurat. Hukum Taurat adalah hal yang
utama karena Allah yang memberikan kepada umat Israel. Namun
yang diutamakan orang Farisi dan ahli Taurat adalah hukum-hukum
tambahan yang mereka buat sendiri untuk melengkapi hukum Taurat.
Maka ketika murid-murid Tuhan Yesus tidak mencuci tangan sebelum
makan, ini dianggap masalah besar oleh ahli Taurat dan orang
Farisi. Lebih jauh lagi, tampaknya mereka menganggap bahwa
Yesuslah yang mengajar murid-murid-Nya bertindak melawan tradisi
agama (ayat 2). Yesus membalikkan pertanyaan mereka dengan
pertanyaan mengapa mereka sendiri melanggar perintah Allah demi
tradisi. Yesus pun memberi satu contoh yang memperlihatkan
bagaimana mereka melanggar Hukum Taurat (hukum ke-5) dan
mempertahankan tradisi yang bertentangan dengan Taurat itu
sendiri (ayat 4-6). Melalui contoh itu, Yesus menunjukkan bahwa
meskipun orang Farisi menggunakan tradisi mereka sebagai standar
kebenaran, faktanya tradisi mereka sendiri bertentangan dengan
hukum Allah. Maka menurut Yesus, makanan yang dimakan dengan
menggunakan tangan yang tidak dicuci tidak mempengaruhi
kerohanian seseorang. Namun apa yang keluar dari mulut
seseorang, yaitu perkataannya, memperlihatkan kondisi hatinya
(ayat 17-20). Apa yang keluar dalam wujud tindakan pun
memperlihatkan hati orang.
Mengabaikan keutamaan firman Allah dalam hidup memang jadi
kecenderungan manusia. Namun kita tak boleh bersikap permisif
dan mengatakan bahwa itu kelemahan manusia. Tetap jadikan firman
Tuhan yang utama. Hanya firman Tuhanlah nutrisi bagi kerohanian
kita. Jangan mengganti firman Tuhan dengan yang lain, buku-buku
rohani sekalipun. Setiap hari tetap sediakan waktu untuk membaca
Alkitab. Jadikan firman Tuhan yang kita baca itu sebagai fondasi
bagi perilaku, cara berpikir, cara bersikap terhadap orang lain,
dan juga dalam cara kita berkarya.
|