|
Judul: Bukan karena perbuatan baik
Banyak orang tidak merasa perlu percaya kepada Yesus, karena merasa
sudah banyak berbuat baik dan "tidak pernah" melakukan dosa dan
kejahatan. Mereka menganggap perbuatan baik atau amal akan
menyelamatkan mereka dari hukuman dan membawa mereka masuk ke
sorga.
Hal ini juga diterima dan dipahami oleh seorang muda yang kaya, yang
menanyakan pada Yesus tentang perbuatan baik yang harus ia
lakukan agar mendapatkan hidup kekal. Yesus pertama-tama
memperbaiki pandangannya yang salah dengan mengajarkan bahwa
hanya ada Satu yang baik yaitu Allah saja (Mrk. 10:18). Setiap
perbuatan baik yang manusia lakukan tidak dapat memenuhi
tuntutan atau standar Allah. Perbuatan baik berdasarkan standar
Allah adalah hidup sesuai dengan Taurat yang dirangkum dalam
hukum mengasihi sesama manusia. Pemuda itu dengan angkuh tetapi
juga keliru, berkata bahwa ia sudah melakukan seluruh tuntutan
Taurat. Ternyata ia belum memahami esensi Taurat, yaitu hidup
dalam anugerah. Buktinya ia menolak ajakan Yesus untuk menjual
hartanya dan memberikan semuanya kepada orang miskin agar dapat
mengikut Yesus. Taurat bagi anak muda itu sekadar alat untuk
mendapatkan pembenaran, bukan otoritas Allah untuk ditaati
dengan hati bersyukur.
Kisah orang muda itu dijadikan Yesus sebagai pelajaran yang berharga
bagi murid-murid-Nya agar mereka jangan dikuasai oleh harta.
Fokus hidup orang yang dikuasai oleh harta bukanlah Allah dan
kehendak-Nya, tetapi harta itu sendiri sebagai penjamin hidup
mereka (Mat. 6:24). Tanpa mengakui berdosa diperbudak harta
serta bertobat, mustahil seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan
Sorga. Sebaliknya itu adalah anugerah Allah yang diterima,
disadari, dan direspons dengan ucapan syukur.
Perbuatan baik dan punya harta banyak tidak membuat Anda menjadi
anak Tuhan. Hanya anugerah semata yang menyelamatkan. Namun
orang yang sudah diselamatkan pasti senang berbuat baik dan suka
berbagi kepada sesama.
|