Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Matius 12:1-21
< Februari
2010
>
M S S R K J S
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28            


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Selasa, 2 Februari 2010

Judul: Hukum untuk umat
Orang Farisi punya daftar hukum yang dibuat berdasarkan aturan yang tertulis dalam Kitab Suci. Hukum itu dianggap sama derajatnya dengan Kitab Suci. Salah satunya adalah hukum Sabat. Orang dilarang bekerja pada hari Sabat.

Murid-murid Yesus dituduh melanggar Sabat karena bekerja (ayat 1-8). Padahal mereka hanya memetik gandum dan memakannya! Menjawab tuduhan itu, Yesus menceritakan kisah Daud saat melarikan diri dari Saul (1Sam. 21:1-6). Waktu la-par, Daud ke Rumah Allah dan menerima roti kudus dari imam Ahimelekh (bdk. Kel. 25:30; Im. 24:5-9). Sebenarnya roti itu hanya boleh dimakan oleh imam. Bersalahkan Ahimelekh dan Daud? Terbukti kemudian bahwa dengan memberi roti itu kepada Daud, Ahimelekh memenuhi maksud Allah.

Kisah kedua adalah para imam. Mereka bekerja, melayani umat, justru pada hari Sabat. Salahkah mereka? Allah yang menyuruh mereka! Salahkah Allahkah? Tentu tidak. Ia punya maksud tersendiri. Pernyataan Yesus bahwa Dia Tuhan atas Sabat menyatakan bahwa Dia punya otoritas atas Sabat.

Lalu Yesus menyembuhkan orang yang sebelah tangannya lumpuh pada hari Sabat itu juga. Agar orang Farisi paham, Yesus membandingkan dengan kisah domba yang jatuh ke lubang pada hari Sabat. Salahkah orang bila menolong domba itu? Dengan kisah itu, Yesus ingin mengajarkan bahwa makna Sabat bukan sekadar berhenti dari semua aktivitas melainkan bagaimana melakukan kehendak Allah di hari itu. Jika Sabat dirancang sebagai hari kudus, hari untuk beristirahat dan dipulihkan, hari perayaan kasih karunia Allah, bukankah memberi makan mereka yang lapar dan menyembuhkan orang yang sakit sesuai juga dengan makna Sabat?

Sebab itu mari kita bijak melihat maksud Allah dalam tiap hukum-Nya. Ingatlah bahwa Ia merancang hukum untuk kesejahteraan umat dan bukan sebaliknya. Maka jangan hanya bersikap keras dan menghakimi orang yang melakukan kesalahan. Melainkan bersikaplah seperti Yesus yang melayani dengan lemah lembut (ayat 19) dan penuh belas kasihan (ayat 20).

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran