|
Judul: Disiplin gereja
Menjalankan disiplin gereja terhadap orang-orang yang melakukan dosa
memang tidak menyenangkan dan rumit, tetapi harus tetap
dilakukan. Perikop ini memberikan dua prinsip dalam menjalankan
disiplin gereja.
Pertama, tujuan disiplin gereja adalah pertobatan (ayat 15-17). Maka
dimulai dengan menegur secara pribadi sehingga tidak
mempermalukannya di hadapan orang lain. Kalau tidak mau bertobat
baru ada langkah-langkah lebih lanjut yang melibatkan pemimpin
gereja, bahkan bila diperlukan seluruh gereja. Dosa yang
ditutupi dan tidak dibereskan akan berakibat buruk menjalar ke
orang lain, dan akhirnya merusak kesaksian gereja. Langkah
terakhir, ketika tahapan disiplin yang diberlakukan tidak
membuahkan hasil, adalah memperlakukan dia seolah-olah orang
tersebut belum mengenal Allah. Jangan-jangan ia memang belum
menjadi anak Tuhan sejati. Dalam hal ini gereja diberi otoritas
untuk menyatakan kuasa Allah (ayat 18-20).
Kedua, disiplin harus dilandasi dengan semangat mengampuni. Jawab
Yesus terhadap pertanyaan Petrus tentang berapa kali harus
mengampuni sesama, tegas menyatakan tidak berhingga. Perumpamaan
Yesus mengajarkan mengapa harus mengampuni tanpa batas. Yaitu
karena kita telah mendapat pengampunan Allah secara tuntas dari
dosa yang begitu besar. Dosa kita di hadapan Allah tidak dapat
dibandingkan dengan kesalahan sesama kepada kita sebesar apa
pun. Kita harus mengampuni orang lain tanpa batas karena kita
telah menerima anugerah dan kemurahan Tuhan yang besar. Ia telah
mengampuni kita dengan tanpa batas juga, melalui kematian Yesus
di kayu salib.
Displin gereja harus dilandasi dua hal tersebut baru berjalan
efektif karena berkenan kepada Tuhan. Semangat menjatuhkan orang
laina atau senang dengan penderitaan orang lain harus dijauhi!
Gereja akan bertumbuh sehat ketika di dalamnya anak-anak Tuhan
saling menjaga kekudusan, saling mengampuni, dan saling
mendorong pertobatan.
|