|
Judul: Tiap orang dapat kesempatan
Perumpamaan ini adalah salah satu perumpamaan yang paling dikenal
dalam Alkitab karena sering diajarkan/dikhotbahkan. Tampaknya
perumpamaan ini tidak membu-tuhkan terlalu banyak penafsiran
karena Yesus sendiri sudah menjelaskan maknanya kepada para
murid (ayat 18-23).
Tokoh dalam perumpamaan ini hanya satu, yaitu se-orang penabur yang
menaburkan benih. Benihnya ada yang jatuh di pinggir jalan,
tetapi kemudian habis dimakan burung. Ada juga yang jatuh di
tanah berbatu-batu, bisa tumbuh tetapi tidak bisa berakar karena
tanahnya tipis. Lalu ada yang jatuh di tengah semak duri, bisa
tumbuh tetapi kemudian mati karena terhimpit semak yang tumbuh
lebih subur. Namun ada yang tumbuh di tanah yang subur hingga
berbuah berpuluh kali lipat.
Meski jatuh di tanah berbeda, tiap benih yang ditebarkan punya
potensi untuk bertumbuh. Meski ada yang tidak punya kesempatan
untuk tumbuh, tetapi ada yang bisa menghasilkan panen. Walau ada
juga yang hanya sekadar tumbuh. Maka Yesus memperingatkan
pendengar-Nya bahwa perumpamaan ini memerlukan penafsiran yang
saksama: "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" (ayat 9).
Tentu saja setiap orang punya telinga. Namun Yesus
mengisyaratkan bahwa yang diperlukan untuk memahami perumpamaan
ini bukan sekadar mendengar. Butuh sikap memperhatikan.
Benih itu adalah firman tentang Kerajaan Sorga (ayat 19), yang
diberitakan kepada semua orang. Tanah adalah hati manusia, yang
memutuskan bagaimana merespons benih itu. Semua orang punya
kesempatan untuk mendengar firman. Perlu waktu untuk bertumbuh
dan menghasilkan buah, selain harus melalui masa yang sulit.
Namun kita melihat bahwa si penabur tidak pilih-pilih tanah.
Tanah seperti apa pun mendapat kesempatan untuk menerima benih.
Begitu pun seharusnya sikap kita dalam mengabarkan firman kepada
orang lain. Jangan karena kita, ada orang yang tidak beroleh
kesempatan untuk mendengar firman.
|