|
Judul: Perceraian bukan kehendak Tuhan
Menurut suatu survei yang diadakan di Amerika Serikat, lima di
antara sepuluh pernikahan berakhir dalam perselisihan dan
perceraian yang pahit. Kelima sisanya tetap utuh seumur hidup,
tetapi dengan derajat ketidakharmonisan yang berlainan. Lama
kelamaan perceraian jadi hal lumrah.
Dengan maksud untuk mencobai Yesus, orang Farisi menanyakan masalah
perceraian kepada Yesus. Mereka ingin melibatkan Yesus dalam
pertentangan pendapat di antara dua aliran Farisi yaitu Shammai
dan Hillel. Shammai ketat mengajarkan bahwa seorang laki-laki
hanya boleh menceraikan istrinya bila kedapatan berzina. Hillel
lebih kendur mengajarkan bahwa seorang laki-laki boleh
menceraikan istrinya dengan alasan apa pun. Yesus tidak masuk ke
dalam pertentangan mereka, melainkan Ia membawa mereka kembali
kepada tujuan semula Allah mendirikan institusi pernikahan.
Yaitu agar laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan dari
dua pribadi yang berbeda latar belakang, kebiasaan, budaya,
sifat, konsep berpikir, dan perilaku. Mereka harus meninggalkan
dan menyingkirkan segala hal dan ikatan yang dapat menghambat
keharmonisan dan kesatuan mereka. Apa yang telah dipersatukan
Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia (ayat 6). Musa
mengizinkan perceraian (Ul. 24:1) karena ketegaran dan kedegilan
hati orang Israel yang suka melawan aturan dan kehendak Tuhan.
Padahal sejak awal Tuhan tidak menghendakinya (Mal. 2:16).
Perceraian juga akan menimbulkan luka mendalam bagi
masing-masing pasangan maupun anak-anak mereka. Lagipula siapa
yang bercerai, kecuali karena pasangannya berzina, lalu menikah
lagi, sesungguhnya ia sudah berbuat zina.
Dengan anugerah Tuhan dan kesetiaan, kita harus memelihara
pernikahan kita. Tuntutan Tuhan terhadap pernikahan memang
ketat, tetapi hal ini tidak harus membuat kita memilih hidup
membujang saja. Ada karunia khusus untuk seseorang membujang,
yaitu agar fokus dalam melayani Tuhan dan membawa orang-orang
datang kepada Kristus.
|