Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Korintus 13:13
< Februari
2010
>
M S S R K J S
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28            


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Sabtu, 20 Februari 2010

Judul: Iman, harap, dan kasih
Bagaimana penilaian Anda tentang kualitas iman, harap, dan kasih kebanyakan orang Kristen yang Anda kenal? Semisal saudara seiman di gereja atau di kantor Anda? Atau di antara teman sekelompok persekutuan doa atau kelompok pembinaan Anda? Atau supaya lebih spesifik, bagaimana kualitas iman, harap, dan kasih Anda sendiri kepada Tuhan?

Ya, Anda benar. Bahkan di antara orang yang kelihatannya begitu bergairah dalam hal-hal rohani, ternyata kualitas iman, harap, dan kasih bisa sedemikian rendahnya. Kehidupan orang Kristen di Korintus inilah contoh paling jelas. Meskipun jika kita perhatikan beberapa peringatan Tuhan Yesus, Paulus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ternyata cukup banyak orang Kristen yang harus diingatkan lagi agar prima dalam iman, harap, dan kasih mereka (lihat misalnya: Luk. 18:8; 1Ptr. 1:13; Why. 2:4). Aktif dalam pelayanan, berhasrat menerima bermacam karunia rohani, tidak menjamin bahwa ketiga kebajikan rohani ini pasti baik adanya. Bahkan lebih jauh lagi tidak saja ketiga kebajikan teologis ini mutlak merupakan realitas yang Allah ingin lihat dalam hidup kita; ketiga hal ini pada asal dan akhirnya bertumpu pada kualitas kasih kita kepada Allah!

Bagaimana memastikan agar kita memiliki trio iman Kristen ini secara prima? Jawabnya sederhana, tetapi tak boleh kita sepelekan. Milikilah hubungan dan kehidupan terfokus jelas pada dasar iman, sumber pengharapan, sumber serta tujuan kasih kita, yaitu Yesus Kristus sendiri. Iman kita kuat bukan karena kapasitas alami kita, melainkan karena sang dasar iman memang layak diimani dan terus menerus mengisikan kehidupan iman kita dengan realitas yang menyegarkan iman. Pengharapan kita kokoh bahkan di tengah gelombang dan goncangan berbagai kesukaran hidup, sebab melalui Roh-Nya Ia terus menerus memberi daya baru agar kita boleh "berharap dalam kondisi tanpa harapan sekalipun." Kasih kita pun akan bergelora dengan nyala yang makin hari makin hangat sebab kasih-Nya sendiri yang membangkitkan respons nyala cinta kita itu. Dan dengan terus menerus berpaut kepada-Nya, iman, harap, dan kasih kita akan penuh dinamika sampai kekal nanti.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran