Bacaan : 1Raja 21:1-19
Theodor Seuss Geisel, pengarang buku cerita anak-anak terkenal,
pernah menulis cerita tentang seekor kura-kura bernama Yertle. Yertle
adalah raja kura-kura di sebuah kolam yang aman dan damai. Setiap
hari ia duduk di takhtanya, yakni sebuah batu di tengah kolam. Suatu
saat ia berpikir, andai takhtanya lebih tinggi, tentu ia dapat
melihat banyak hal yang indah di luar kolam.
Yertle mendapat akal. Ia memerintahkan sembilan ekor kura-kura untuk
saling menaiki punggung, sehingga tersusun tinggi ke atas. Lalu ia
naik ke punggung kura-kura paling atas dan melihat pemandangan yang
luas dari tempat tinggi. Mack, kura-kura yang berada paling bawah,
mengeluh kesakitan. Namun, Yertle tidak peduli. Ia terus memerintah
supaya jumlah tumpukan kura-kura ditambah. Sampai akhirnya, jumlah
kura-kura yang bertumpuk adalah 5.816 ekor. Ketika itulah Mack
bersendawa. Lalu bergoyanglah kura-kura lain di atasnya. Akibatnya,
Yertle yang berada di ketinggian jatuh terperosok ke dalam lumpur dan
mati.
Hikmah cerita di atas adalah, apabila kita memiliki kekuasaan; entah
sebagai majikan di rumah, atasan di kantor, ataupun pejabat di
pemerintahan-jangan mempergunakannya untuk menindas orang lain.
Bisa-bisa kita sendiri yang menanggung akibatnya. Kekuasaan bukan
warisan yang dapat digunakan seenaknya, tetapi titipan Tuhan yang
harus dipertanggungjawabkan. Tuhan tidak suka dengan sikap para
pemegang kekuasaan yang sewenang-wenang. Ingatlah bagaimana Dia
sangat marah kepada Raja Ahab yang dengan kekuasaannya berbuat
sewenang-wenang terhadap Nabot (ayat 19) -AYA
PARA PENINDAS AKAN MENUAI APA YANG DITABURNYA
|