Bacaan : Efesus 5:6-14
Dalam bukunya The Gospel According to Starbucks, Leonard Sweet
menuliskan kisah Ed Faubert, seorang ahli pencicip kopi
(coffee-taster) ternama. Ia sangat peka pada cita rasa kopi.
Berikanlah kepadanya secangkir kopi dan ia akan segera bisa
menjelaskan segala hal tentang kopi itu secara perinci. Bahkan dengan
mata tertutup, ia bisa tahu kopi yang dicicipinya berasal dari negara
mana, ditanam di ketinggian berapa, dan di gunung apa.
Kepekaan dibentuk oleh latihan dan pengalaman terus-menerus.
Kepekaan rohani pun demikian. Untuk dapat menguji apa yang berkenan
kepada Tuhan (ayat 10), Paulus meminta jemaat Efesus untuk
terus-menerus belajar hidup sebagai anak terang. Maksudnya, hidup
sesuai dengan firman Tuhan. Dengan mempraktikkan firman setiap hari,
semakin lama mereka akan menjadi semakin peka. Hasilnya? Mereka dapat
membedakan mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak.
Mereka takkan mudah disesatkan, sekalipun tiap hari hidup berbaur
dengan orang-orang yang memiliki cara pikir dan gaya hidup duniawi.
Bukannya terpengaruh, mereka bahkan bisa "menelanjangi perbuatan
kegelapan" itu. Artinya, bisa menyadarkan orang lain akan
perbuatannya yang berdosa.
Kita hidup pada zaman di mana penyesatan terjadi di mana-mana: lewat
buku-buku, media massa, dan aneka tawaran dunia yang menggiurkan.
Sudahkah kita memiliki kepekaan rohani? Banyak orang kristiani masih
belum "bangun dari tidur" (ayat 14), bahkan ikut terbius dalam
keduniawian. Tidak ada cara lain: kita harus belajar hidup taat
sesuai firman Tuhan. Hanya dari situ kita bisa semakin peka -JTI
CARA UNTUK MENGUSIR KEGELAPAN SANGAT SEDERHANA:
BAWALAH PELITA YANG MENYALA
|