Bacaan : Yeremia 20:7-18
Soe Hok Gie adalah tokoh muda penulis buku "Catatan Harian Seorang
Demonstran". Ia meninggal dunia dalam usia 27 tahun di puncak Gunung
Semeru. Riwayat hidupnya pernah dibukukan dan difilmkan. Dalam
puisinya berjudul "Mandalawangi Pangrango", ia menulis demikian:
"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya tanpa kita
mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah."
Yah, dalam hidup ini kerap kita tidak dapat memilih. Seumpama
makanan, seolah-olah semuanya sudah disediakan dari "sononya". Kita
hanya bisa "makan" tanpa protes. Kita, misalnya, tidak pernah memilih
untuk terbaring sakit, melahirkan anak yang dengan kebutuhan khusus,
menjalani kehidupan yang tidak kita inginkan. Kita hanya bisa
menerimanya.
Pergumulan itu juga dialami Yeremia. Ia tidak pernah memilih menjadi
nabi (ayat 7). Bahkan, sebetulnya ia ingin menolak jabatan itu. Namun
kenyataannya, ia tak dapat mengelak (ayat 9). Keadaan itu membuatnya
merasa tertekan dan terus didera peperangan batin. Sampai-sampai ia
berkata, "Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan
diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!" (ayat 14)
Ketika menghadapi situasi demikian, tak ada cara lain yang lebih
tepat selain menerimanya dengan rela. Kalaupun kita terus
memberontak, tidak akan ada gunanya; hanya melelahkan bahkan menambah
masalah baru. Ketika kita tak dapat mengubah keadaan di luar, yang
bisa kita lakukan adalah mengubah sikap dan pandangan kita terhadap
keadaan itu. Kuncinya ada pada keyakinan bahwa hidup kita selalu
dalam kendali kasih dan kuasa Tuhan -AYA
BERDAMAI DENGAN KENYATAAN ITU INDAH
|