Bacaan : Markus 14:43-52
Memberikan kritik kepada orang lain selalu lebih mudah dilakukan
daripada mengkritik diri sendiri. Yah, "selumbar" di mata orang lain
mudah terlihat, sementara "balok" di mata sendiri tidak. Oleh sebab
itu, orang yang mampu melakukan otokritik (kritik atas diri sendiri)
pastilah seorang yang berjiwa besar.
Injil Markus ditulis dengan semangat otokritik yang berani.
Dialamatkan kepada orang kristiani, tetapi juga ditulis untuk
mengkritik para pemimpin kristiani. Kita dapat melihatnya dari
bagaimana Injil ini menceritakan murid-murid Yesus, yang notabene
adalah para rasul, yaitu pemimpin Gereja. Kelemahan para pemimpin itu
"ditelanjangi" dengan sangat jujur. Termasuk tatkala mereka semua
"melarikan diri" waktu Yesus ditangkap di Taman Getsemani. Memalukan,
tetapi nyata. Markus benar, tindakan memalukan para pemimpin-termasuk
para pemimpin kristiani-masih terus ada dan terjadi sampai sekarang.
Untuk itu, harus ada yang berani mengkritiknya demi perbaikan.
Namun, yang luar biasa adalah Markus bukan hanya mengkritik para
seniornya, tetapi juga mengkritik dirinya sendiri. Bahkan lebih
tajam! Jika para murid "melarikan diri", ia adalah pemuda yang "lari
dengan telanjang". Sebenarnya pemuda itu adalah dirinya sendiri!
Jadi, di sini seolah-olah Markus berkata, "Mereka semua lari
meninggalkan Yesus, lebih-lebih aku sendiri!" Sebuah otokritik yang
pantas dihargai.
Apakah kita adalah orang kristiani yang bertumbuh dewasa? Salah satu
takaran untuk mengukur kedewasaan iman kita adalah kesediaan diri
untuk melakukan otokritik. Maukah kita? -PAD
JUJUR ARTINYA BERSEDIA MENGAKUI KEBENARAN DAN KESALAHAN
BAIK PADA ORANG LAIN MAUPUN PADA DIRI SENDIRI
|