Bacaan : Keluaran 17:1-7
Pada tahun delapan puluhan, pemerintah Indonesia mencanangkan program
Listrik Masuk Desa. Tujuannya supaya semua rakyat Indonesia, termasuk
yang ada di pelosok, bisa menikmati manfaatnya. Namun, ternyata bagi
penduduk di sebuah desa di Jember, Jawa Timur, harapan itu tinggal
harapan. Sampai tahun dua ribuan awal, mereka masih belum menikmati
listrik. Adalah Sunarya yang mengubah semuanya. Dengan peralatan
seadanya, ia memanfaatkan sungai kecil yang melintasi desa itu untuk
menggerakkan turbin sederhana hasil rakitannya. Dari situ ia berhasil
membuat sumber listrik alternatif yang kemudian dipakai untuk
menerangi rumah-rumah penduduk.
Sunarya memilih untuk tidak mengeluh. Daripada bersungut-sungut dan
melancarkan protes pada pemerintah, ia memilih mencari jalan keluar.
Mandiri guna menemukan solusi. Sayangnya, sikap demikian tidak
dimiliki oleh bangsa Israel. Ketika mereka tidak mendapatkan air saat
berkemah di Rafidim, mereka datang kepada Musa; berkeluh kesah,
memprotes, dan marah. Dalam sekejap mereka lupa pada semua hal baik
yang pernah Tuhan lakukan bagi mereka. Lupa pada peristiwa Laut
Teberau (Keluaran 14:15-31); lupa pada peristiwa di Mara dan Elim
(Keluaran 15:22-27); lupa pada peristiwa manna dan burung puyuh
(Keluaran 16:1-36).
Mengeluh dan bersungut-sungut tidak akan menyelesaikan masalah,
tetapi justru menimbulkan masalah baru yang tidak perlu. Lebih dari
itu, keluhan dan sungut-sungut membuat mata rohani kita buta. Kita
tidak lagi dapat melihat hal-hal baik yang telah Tuhan berikan,
sehingga kita lupa bersyukur dan mengabaikan potensi diri sendiri
-AYA
JANGAN MENGELUH JIKA SAMPAH BERSERAKAN DI DEPAN KITA
AMBIL SAMPAH TERDEKAT DAN BUANGLAH KE TEMPATNYA
|