Bacaan : Yohanes 4:4-30
Salah satu tugas gereja adalah bersaksi. Namun, saat kita diminta
bersaksi, muncullah beberapa pertanyaan. Mengapa kita perlu bersaksi?
Apa modalnya? Kepada siapa? Di mana? Dengan cara bagaimana? Renungan
hari ini akan menuntun kita menemukan setiap jawabannya.
Ketika si perempuan Samaria bertemu Yesus di sumur Yakub, itu
merupakan perjumpaan yang istimewa. Di situ matanya terbuka melihat
siapakah dirinya; manusia yang berdosa dan penuh kekurangan. Inilah
awal yang harus kita alami; perjumpaan dengan Yesus secara pribadi.
Selanjutnya, perjumpaan dengan Yesus membawa perempuan itu pada
pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan. Itulah yang membuatnya segera
"meninggalkan tempayannya" dan bercerita tentang Yesus kepada
orang-orang.
Kita juga memiliki Amanat Agung yang memberi petunjuk jelas tentang
menjadi saksi Kristus. Kita harus bersaksi di Yerusalem; yang berarti
kepada orang dekat, sebangsa, dan sebudaya. Di seluruh Yudea; yang
artinya kepada orang yang sebangsa dan sebudaya, tetapi letaknya
cukup jauh. Di Samaria, kepada "tetangga" yang tidak sebudaya. Dan
sampai ke ujung bumi; artinya kepada orang yang tidak sebangsa dan
jauh dengan kita. Dan perintah-Nya bukan ini atau itu, tetapi ini dan
itu. Jadi, tidak bisa pilih-pilih. Artinya, kepada siapa pun (yang
dikenal atau tidak) dan di mana pun (yang tinggal dekat atau jauh).
Akhirnya, dengan cara apa? Dengan hidup dipenuhi Roh Kudus, sehingga
punya kuasa untuk menjadi kesaksian. Saat hidup kita menjadi
kesaksian yang indah bagi sesama, mereka pun akan mengenal Tuhan yang
menyelamatkan -ENO
SESUNGGUHNYA BERSAKSI BUKANLAH HAL YANG SUKAR
JIKA KITA BERSEDIA UNTUK HIDUP BENAR
|