Bacaan : Yosua 24:1-3, 13-16
Selama hidupnya, Yosua konsisten mengikuti Allah. Sejak muda, ia
telah berani tampil dan mengajak umat Israel untuk tidak memberontak
kepada Allah dan dengan demikian berani memasuki Kanaan (Bilangan
14:5-10). Pada masa tuanya, ia tampil lagi di depan semua suku
Israel. Ia mengimbau mereka supaya tetap beribadah kepada Allah. Dan
umat itu mengikuti teladan Yosua (ayat 16,24). Betapa dahsyat dampak
ketetapan hati satu orang beriman! Ia membawa keluarga dan bangsanya
untuk mengikuti Tuhan.
Suatu kali ayah saya, George, merasa bimbang. Di satu sisi ia merasa
Tuhan memanggilnya untuk menjadi hamba-Nya. Di sisi lain, sebagai
satu-satunya anak laki-laki, ayahnya berharap George meneruskan usaha
tokonya. Pamannya-seorang anak Tuhan-memberi nasihat: "Jika kau
menuruti permintaan orangtuamu, mereka takkan pernah menjadi orang
percaya". Jadi, George menetapkan hati untuk memenuhi panggilan
Tuhan. Allah itu setia. Setelah 15 tahun ia menjadi pendeta, kedua
orangtuanya mengaku percaya dan dibaptis. Ia juga menerima adik-adik
istrinya untuk tinggal di rumahnya dan membawa mereka satu per satu
menjadi orang percaya. Dari gereja kecil yang ia layani dengan setia
selama 25 tahun, muncul lebih dari 70 pemuda yang menjadi pendeta.
Teladan Yosua dan George, ayah saya, mengingatkan akan panggilan
pelayanan kita yang pertama dan utama. Membawa keluarga kita kepada
Kristus! Sangat sulit? Betul. Namun, ketetapan hati membuat hal sulit
menjadi mungkin. Karena Allah yang menyelamatkan kita, juga rindu
menyelamatkan keluarga kita (Kisah Para Rasul 16:31) dan lingkup yang
lebih luas di sekitar kita (1:8) -WP
PENYELAMATAN KELUARGA, GEREJA, MASYARAKAT, DAN DUNIA
DIMULAI DARI KEREKATAN HATI, KEKUDUSAN, DAN HIDUP YANG TAAT
|