Bacaan : Matius 6:16-18
Puasa adalah salah satu bentuk disiplin rohani, biasanya dengan
berpantang makan dan minum untuk jangka waktu tertentu dan dilakukan
pada suatu momen atau situasi tertentu. Pada masa sekarang ada
beberapa macam puasa: ada yang tidak makan dan tidak minum dari pagi
sampai petang, ada yang hanya tidak makan tetapi tetap minum, ada
yang hanya tidak makan makanan tertentu, misalnya daging dan garam.
Ada juga yang berpantang melakukan "hobi" tertentu, misalnya menonton
televisi atau mengakses internet, kemudian waktunya dipakai untuk
membaca Alkitab atau bersaat teduh pribadi.
Apakah itu boleh? Boleh saja. Yang penting adalah semangat dan tujuan
berpuasa, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mengasah
kepekaan akan kehadiran Tuhan, serta untuk melatih dan mengendalikan
diri terhadap "nafsu kedagingan". Jadi, jangan berpuasa misalnya,
karena ikut-ikutan atau sekadar mengikuti kewajiban keagamaan, atau
malah lebih-lebih lagi untuk mencari pujian!
Bacaan kita, Matius 6:16-18, memiliki pesan yang sejajar dengan dua
perikop terdahulu, yaitu mengenai memberi sedekah (Matius 6:1-4) dan
berdoa (Matius 6:5-15). Intinya, bahwa dalam menjalankan kegiatan
keagamaan (memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa) hendaknya jangan
"munafik" dan jangan sekadar untuk mencari pujian dan hormat dari
manusia. Jika demikian, kegiatan keagamaan hanya akan penuh dengan
kepura-puraan (ayat 16). Kegiatan keagamaan apa pun bentuknya,
baiklah itu menjadi "urusan" pribadi dengan Tuhan; sertai dengan
ketulusan hati untuk beribadah kepada Tuhan (ayat 18) -AYA
BERPUASA, BILA DISERTAI DENGAN HATI TULUS
DAN TUJUAN LUHUR AKAN BESAR SEKALI MANFAATNYA
|