Bacaan : 2Raja-raja 6:14-18
Ketika berjalan memasuki kantor, Eddy menyenggol ujung meja seorang
teman yang memang posisi mejanya agak miring. Karena kesakitan, Eddy
menjadi marah. Dalam kondisi marah, ia kemudian menjadi kalap dan
menyalahkan temannya yang tidak menyusun meja dengan benar. Sikap
kalap membuatnya tidak tenang, over reaktif, sehingga ia tak dapat
melihat apa yang sesungguhnya terjadi dengan mata jernih.
Bujang Elisa juga bersikap kalap ketika mendapati dirinya dan Elisa,
tuannya, dikepung oleh pasukan raja Aram. Sikap reaktif membuatnya
panik dan ketakutan, bahkan mengeluarkan kalimat putus asa (ayat 15).
Hal itu menghalanginya untuk melihat bahwa pertolongan Tuhan ada di
sekelilingnya (ayat 17). Sebaliknya, Elisa memiliki kepercayaan yang
besar kepada Allah yang dapat diandalkan. Dengan begitu ia dapat
bersikap tenang, bahkan dapat berdoa meski ia ada dalam situasi yang
sama dengan bujangnya.
Kalap membuat hati kita bergejolak dan tidak dapat berpikir jernih.
Dalam kondisi demikian, sangat mungkin kita mengambil tindakan yang
salah. Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak kalap, meskipun
tekanan datang tanpa dapat diduga? Pemazmur membukakan sebuah sikap
yang indah, yaitu "diam". Diam dan tenang di hadapan Allah akan
menolong kita untuk tidak bersikap kalap dalam menghadapi tekanan.
Doa bukan sekadar waktu untuk berbicara dengan Tuhan. Doa juga
merupakan waktu untuk menenangkan diri di hadapan-Nya dan melihat Dia
berkarya melalui keadaan yang sulit sekalipun. Hari ini, bila situasi
hidup menekan Anda, ambillah pilihan untuk berdoa -RY
BADAI AKAN MEMBUAT KITA PANIK
TETAPI TUHAN AKAN MENENANGKANNYA
|