Bacaan : Lukas 10:29-37
Cerita orang Samaria yang baik hati sudah sangat terkenal. Banyak
film, drama, novel, dan cerpen yang ditulis berdasarkan cerita ini.
Cerita ini bukan kisah nyata, tetapi maknanya sangat riil. Orang yang
membutuhkan pertolongan, orang yang baik hati, dan orang yang tidak
mau peduli terhadap sesama yang menderita adalah sosok-sosok nyata
yang ada di dunia ini dari dulu sampai sekarang.
Bukan tanpa sengaja kalau Tuhan Yesus menjadikan orang Samaria
sebagai "tokoh baik", sedangkan imam dan orang Lewi sebagai "tokoh
buruk". Orang Samaria di mata orang-orang Yahudi adalah kelompok
marginal, yang dianggap hina, sedangkan imam dan orang Lewi dianggap
sebagai kalangan elite masyarakat dan terhormat. Cerita ini
seakan-akan hendak menjungkirbalikkan anggapan umum yang ada pada
waktu itu, bahwa yang Tuhan hargai dari manusia bukanlah status atau
kedudukan sosial yang disandangnya, tetapi karya kasihnya kepada
orang lain yang menderita.
Di dalam cerita itu, imam dan orang Lewi digambarkan sebagai
orang-orang yang tidak memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap
sesama. Sebaliknya orang Samaria, dengan sigap menyingsingkan lengan
baju untuk menolong si korban. Bahkan, ia memberi pertolongan tanpa
pamrih dan gembar-gembor. Tuhan Yesus menutup cerita ini dengan satu
nasihat praktis, "Pergilah dan perbuatlah juga demikian" (ayat 37).
Dalam hidup bermasyarakat, kita akan selalu bertemu dengan "korban",
yakni mereka yang memerlukan pertolongan. Tuhan menghendaki kita
perbuat seperti orang Samaria itu -AYA
TUHAN MENGHARGAI KARYA KASIH KITA
BUKAN STATUS SOSIAL KITA
|