Bacaan : Roma 7:14-25
Sebuah penelitian menunjukkan, anak-anak muda di Jepang memiliki
kondisi psikologis mudah merasa bersalah, kerap meminta maaf, dan
mudah menyesal karena hal-hal sepele. Semuanya ini bermula ketika
rakyat Jepang merasa sangat bersalah karena bangsanya dianggap
sebagai pencetus tragedi kemanusiaan dalam Perang Dunia II. Sejak
saat itu, beban "dosa asal" tersebut disosialisasikan ke dalam setiap
tingkatan masyarakat. Dari usia yang sangat muda, orang Jepang sudah
dikenalkan pada budaya trauma itu, salah satunya dengan sikap meminta
maaf sambil membungkukkan punggungnya dalam-dalam. "Dosa turunan" ini
terus diwariskan sampai banyak generasi berikutnya tanpa ada
penyelesaian yang melegakan.
Serupa dengan dosa asal di atas, setiap anak lahir ke dunia tanpa
dapat menolak dosa asal Adam yang pertama melekat pada dirinya (Roma
5:15). Tanggungan dosa itu mengikat si anak sehingga sekalipun ia
ingin melakukan yang baik, ternyata yang buruklah yang ia perbuat
(7:19). Kecenderungan untuk berbuat dosa ini bisa membelenggu si anak
hingga akhir hayatnya; dan menjadi masalah yang tak terselesaikan,
jika tak ada orang yang membawanya kepada Kristus yang sanggup
menyelamatkan jiwanya (ayat 24,25).
Kita mungkin menurunkan dosa asal kepada anak-anak, tetapi Yesus
telah mengulurkan tangan-Nya yang berlubang paku untuk mematahkan
belenggu dosa itu. Dialah satu-satunya Pribadi yang dapat memberi
kelepasan kekal. Bersegeralah membawa anak-anak kita kepada Kristus!
-AW
SETIAP ANAK MEMANG DILAHIRKAN DENGAN DOSA ASAL
NAMUN SETIAP ANAK JUGA BERHAK MENDAPAT KELEPASAN KEKAL
|